Sebelumnya diberitakan, pemandangan berbeda memang terlihat di Jalan Ir. H. Juanda, Kota Tasikmalaya. Sejumlah mobil ASN terparkir di pinggir jalan, bukan di area kantor.
Pemiliknya kemudian berjalan kaki menuju Bale Kota, seolah datang tanpa kendaraan.
Fenomena ini memunculkan kesan bahwa sebagian ASN hanya memindahkan titik parkir, bukan benar-benar mengubah kebiasaan.
Baca Juga:Kasus Konten Eksploitasi Anak di Kota Tasikmalaya Segera Disidang, SL Terancam 10 Tahun PenjaraModus Iming-Iming Uang, Pensiunan ASN di Kota Tasikmalaya Tersandung Kasus Asusila Anak
Bahkan, ada yang datang bersepeda hanya untuk formalitas, lalu pulang menggunakan mobil yang sudah menunggu.
Program yang diinisiasi Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi, sejatinya bertujuan mendorong gaya hidup ramah lingkungan dan efisiensi energi.
ASN diminta tidak menggunakan mobil dinas, melainkan beralih ke sepeda, motor listrik, atau berjalan kaki.
Namun di lapangan, implementasinya justru membuka ruang tafsir—antara komitmen perubahan atau sekadar kosmetik kebijakan.
Jika pengawasan tetap longgar, CFD ASN Kota Tasikmalaya berisiko hanya menjadi rutinitas simbolik: ramai di awal, redup di akhir, lalu kembali ke “setelan nyaman” yang sejak awal sulit ditinggalkan. (rezza rizaldi / red)
