RADARTASIK.ID— Fisioterapis Persib asal Brasil menemukan kenyamanan hidup di Kota Kembang, dari atmosfer malam hingga kehangatan warganya.
Rutinitas mendampingi pemulihan cedera pemain di lapangan hijau tak sepenuhnya menyita waktu Geraldo Santos.
Di balik kesibukannya sebagai fisioterapis Persib Bandung, pria asal Brasil itu tetap menyisakan ruang untuk menikmati kehidupan di luar stadion.
Baca Juga:Diplomasi Dua Jam di Paris, Presiden Prabowo–Macron Perkuat Poros Strategis Indonesia–PrancisGus Ipul Tegaskan Seleksi Sekolah Rakyat Harus Tepat Sasaran, Tanpa Titipan dan Bebas Penyimpangan
Baginya, Bandung bukan sekadar kota tempat bekerja, melainkan ruang jeda yang menghadirkan ketenangan.
Geraldo Santos disebut menaruh kekaguman pada sejumlah sudut kota, terutama kawasan Jalan Braga yang dinilainya memiliki daya tarik tersendiri.
Suasana malam di kawasan tersebut, menurutnya, memancarkan nuansa yang sulit ditemukan di tempat lain.
Tak hanya itu, wilayah sekitar Bandung seperti Lembang dan Ciwidey juga menjadi destinasi favoritnya untuk menikmati keindahan alam.
Dalam sejumlah kesempatan, Geraldo Santos menggambarkan Bandung sebagai kota dengan kehidupan malam yang menyenangkan, didukung deretan restoran berkualitas serta budaya kopi yang kuat.
“Bandung memiliki malam yang indah, restoran yang bagus, dan kopi yang enak,” ujar Geraldo.
Pengalaman itu membuatnya merasa nyaman, seolah menemukan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Baca Juga:Striker Persija Eksel Runtukahu Dipanggil Timnas Indonesia Usai Bersinar di GBK? Ini HarapannyaAllano Brandon Bawa Persija Bangkit, Ciptakan Satu Gol dan Assist di Laga Penting Lawan PersebayaÂ
Adaptasi pria asal Negeri Samba itu pun berjalan mulus, termasuk dalam urusan selera makan.
Meski berasal dari negara dengan tradisi kuliner berbasis daging yang kuat, ia justru jatuh hati pada hidangan khas Indonesia seperti nasi goreng dan sate.
Perpaduan cita rasa kuliner dan keramahan masyarakat menjadi alasan kuat yang membuatnya betah tinggal lebih lama.
Lebih jauh, Geraldo menilai kehangatan warga Bandung sebagai faktor utama yang membuatnya merasa diterima.
Sejak pertama kali tiba, ia merasakan sambutan yang terbuka, baik dari manajemen klub, rekan satu tim, maupun masyarakat luas.
Kondisi tersebut menumbuhkan rasa memiliki terhadap kota ini.
Ia bahkan mengisyaratkan keinginannya untuk menetap lebih lama di Bandung.
Dalam nada bercanda, ia menyebut bahwa jika memungkinkan, dirinya ingin menghabiskan sisa hidup di kota tersebut, sementara kunjungan ke Brasil cukup dilakukan untuk berlibur.
Ungkapan itu menjadi penegas betapa kuatnya ikatan emosional yang telah terjalin antara dirinya dan Kota Kembang.
