TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Riak konflik di tubuh Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kota Tasikmalaya kian melebar.
Mantan Sekretaris PAC Cipedes, Sri Sugiarti, buka suara dan menyinggung dugaan praktik “politik potong” dalam dinamika internal partai.
Sri Sugiarti menanggapi pernyataan Plt Sekretaris DPC PPP Kota Tasikmalaya, Hilman Wiranata, yang menyebut kinerjanya tidak optimal. Sehingga dia diganti dari kepengurusan.
Baca Juga:Komix Herbal Goes to School di SMKN 1 Tasikmalaya Ingatkan Gen Z Tak Asal Minum ObatJelang Muscab PPP Kota Tasikmalaya: Dugaan Praktek “Politik Formatur” Mengemuka!
Ia membantah tudingan tersebut dan menilai alasan yang disampaikan tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
“Kalau disebut kinerja saya tidak bagus, itu sangat jauh. Saya aktif, bahkan ikut LKKD dan terpilih sebagai salah satu peserta dari tiga orang se-Kota Tasikmalaya,” ujarnya.
Sri pun mengantongi sertifikat nomor 012/LKKM-1/DPW/XII/2025 dan 0655/LKKD-1/DPW/VII/2025.
Ia menjelaskan, polemik bermula saat proses verifikasi data ranting.
Menurutnya, dirinya tidak membawa berkas lengkap ke DPC karena sebelumnya sudah ada pemanggilan langsung kepada pengurus ranting oleh pihak lain di internal DPC.
Sri menyebut, salah satu pengurus DPC telah lebih dulu menghubungi dan memanggil pengurus ranting, bahkan melakukan penyusunan ulang kepengurusan di tingkat bawah.
Hal itu berdampak pada tidak tersalurkannya data melalui jalur struktural yang semestinya.
“Harusnya kan dari ranting ke PAC dulu, baru ke DPC. Tapi ini tidak lewat saya. Akhirnya saya ditekan dari atas, sementara dari bawah tidak setor ke saya,” ungkapnya.
Baca Juga:CFD ASN Kota Tasikmalaya Diuji, Efisiensi BBM Tersandung Realita JarakGaleri Investasi Syariah di Politeknik LP3I Tasikmalaya Dibuka, OJK Ingatkan Jebakan Investasi Bodong
Dari empat ranting di wilayahnya, ia mengaku hanya menerima satu berkas, sementara lainnya tidak diserahkan karena sudah lebih dulu ditangani pihak lain.
Kondisi ini, kata dia, membuat posisinya seolah tidak dianggap dalam struktur organisasi.
Merasa tak dianggap, Sri pun akhirnya merapat ke kader internal lainnya. Ia menegaskan langkah tersebut bukan bentuk pembangkangan, melainkan respons atas situasi yang menurutnya tidak sehat secara organisasi.
“Saya sudah sampaikan ini ke Pak Hilman saat dipanggil bersama lima PAC. Tapi tidak tahu kenapa tetap dinilai seperti itu,” katanya.
Ia juga menyinggung adanya dugaan “politik potong” dalam dinamika internal PPP Kota Tasikmalaya, yang dinilai menjadi salah satu penyebab munculnya konflik berkepanjangan menjelang Musyawarah Cabang (Muscab) VI.
