Gading Wulan

Gading Wulan
Dahlan ISkan
0 Komentar

Mulailah program keras ini dilakukan: tiga orang menjalani KetoFastosis bersama-sama. Berat sama dipukul. Ringan, kebetulan tidak ada yang perlu dijinjing. Hari-hari pertama, kata Wulan, bukan main beratnya. Badan lemes. Tapi sang kakak harus sembuh.

Bahwa hari-hari pertama itu berat, mereka sudah tahu. Begitulah literaturnya. Masa berat itu harus bisa dilewati. Setelah itu semuanya akan bisa dijinjing.

Bahwa hari-hari pertama lemes, itu karena otak belum mencari sumber energi yang lain. Begitu hari ketiga tidak juga ada gula dan karbo otak mulai mencari sumber energi yang lain: lemak.

Baca Juga:Kosan Short Time MeresahkanMantan Kadis UMKM Beri Saran

Begitu otak menemukan lemak, badan tidak lemes lagi. Energi dari lemak juga lebih hebat. ”Satu gram karbo hanya menghasilkan 4 kc energi. Satu gram lemak menghasilkan 9 kc energi,” ujar Wulan.

Hari kelima sang kakak membaik. Tumor sebesar bola pingpong itu mengecil. Hari ketujuh tumor itu kempes sama sekali. Semua senang. Semua bahagia. Hari ke-8 sang kakak meninggal dunia.

Usianya 53 tahun. Wulan sendiri sudah melewati masa-masa yang berat. KetoFastosis itu sudah melewati masa kritis. Otak Wulan sudah menemukan sumber energi non-gula dan non-karbo. Berat badan suaminyi pun mulai turun.

Wulan bertekad meneruskan hidup dengan KetoFastosis. Pun Sang suami. Ini sudah tahun ke-8 Wulan dan suami hidup dalam KetoFastosis. Berat badan suami kini stabil di 74 kg. Wulan 52 kg. Gajah mati meninggalkan gading. Sang kakak mati meninggalkan dr Eko Wulandari yang berjiwa gading. (*)

 NB: Anda bisa menanggapi tulisan Dahlan Iskan dengan berkomentar http://disway.id/.

[/membersonly]

Belum berlangganan Epaper? Silakan klik Daftar!

0 Komentar