128 Meninggal, 8.424 Warga Mengungsi

MENJENGUK KORBAN. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letnan Jenderal TNI Doni Monardo (baju oranye) melakukan peninjauan fasilitas kesehatan dan korban banjir bandang di RSUD Lewoleba Lembata, Nusa Tenggara Timur, Selasa (6/4/2021).

JAKARTA – Data korban meninggal bencana alam banjir bandang di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus bertambah.

Sampai Selasa siang (6/4/2021), berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebanyak 128 orang meninggal dunia dan 8.424 orang dari 2.019 keluarga mengungsi.

”(Meninggal dunia) Dengan rincian Kabupaten Lembata 67 orang, Flores Timur 49, dan Alor 12,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati melalui keterangan tertulis, Selasa (6/4/2021) dilansir dari cnnindonesia.com.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo, sehari sebelumnya, menyebut, tim SAR gabungan dari sejumlah elemen masih melakukan pencarian terhadap 71 orang yang masih hilang.

“Korban yang telah ditemukan itu 84 orang dan yang masih dalam pencarian itu sebanyak 71 orang. Suatu angka yang sangat besar sekali,” kata Doni dalam konferensi pers, Senin (5/4/2021).

Atas musibah yang menelan banyak korban tersebut, Doni menyampaikan duka cita. Dia berharap keluarga korban bisa tabah dan sabar.

“Pada kesempatan ini mari kita berdoa kepada korban yang telah wafat diberikan sisi yang terbaik. Dan, keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” sambung jenderal TNI bintang tiga itu.

Doni memastikan sampai saat ini pihaknya melakukan pencarian terhadap 71 korban yang belum ditemukan. Dalam pencarian dan evakuasi korban di NTT, BPBD dibantu relawan lokal dan tim medis.

“Langkah awal yang sudah dilakukan di lapangan baik tim yang ada di daerah, tim kesehatan, relawan lokal yang telah bekerja keras. (Tim) mencari dan menemukan jenazah, kemudian juga melakukan perawatan kepada pasien yang luka-luka,” urai Doni.

Ketua DPR Puan Maharani mendorong pemerintah maksimal dalam proses pencarian korban dan penanganan kedaruratan. Selain itu juga harus tetap mewaspadai bencana susulan.

Koordinasi penanganan bencana di NTT harus melibatkan tim SAR di Flores dan di Provinsi NTT, Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), BPBD, TNI-Polri, serta pemerintah daerah.

“Terus lakukan pencarian korban. Koordinasi semua kekuatan SAR, dan tim SAR terdekat seperti di Bali dan NTB diharapkan membantu pencarian korban,” katanya dalam keterangannya, Senin (5/4/2021).

Tak hanya itu, pemerintah juga harus mampu memberikan penanganan kondisi darurat dengan penyediaan obat dan makanan, trauma healing, penanganan masyarakat rentan, seperti lansia, anak-anak, difabel atau berkebutuhan khusus, serta mengantisipasi bencana susulan.

“Mitigasi bencana ditingkatkan, masyarakat dan Pemda serta BNPB setempat diharap waspada cuaca ekstrem,” ujarnya.

Dia juga meminta pihak-pihak terkait mencari penyebab banjir bandang sehingga tidak terjadi lagi di masa mendatang.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis adanya dua bibit siklon tropis yang dapat berdampak pada cuaca ekstrem.

Salah satunya potensi curah hujan deras dan angin kencang di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada sepekan ini, 3–9 April 2021. (cnn/jp/gw/fin)

Be the first to comment on "128 Meninggal, 8.424 Warga Mengungsi"

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: