TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Di tengah munculnya nama Herdiat Sunarya dan Dony Ahmad Munir untuk Pilgub Jabar 2029, hubungan politik Gerindra dengan Dedi Mulyadi mulai menjadi bahan pembacaan. Ini sekadar kaderisasi atau awal perubahan peta kekuatan?
Dalam politik, hubungan baik tidak selalu berarti tidak punya pilihan lain. Begitu juga sebaliknya. Punya pilihan lain bukan berarti sedang bermusuhan.
Tetapi ketika sebuah partai mulai memperkenalkan calon alternatif, publik tentu punya hak untuk bertanya: apakah petahana masih menjadi pilihan utama?
Baca Juga:Kuda Hitam Gerindra!Membaca Manuver Amir Mahpud: Herdiat-Dony untuk 2029, KDM ke Mana?
Pertanyaan itu sekarang mengarah kepada dua nama besar: Gerindra Jawa Barat dan Kang Dedi Mulyadi (KDM).
KDM saat ini adalah Gubernur Jawa Barat. Ia punya popularitas. Punya panggung. Punya komunikasi langsung dengan masyarakat.
Sementara Gerindra punya mesin partai. Punya struktur organisasi. Punya kader di berbagai daerah. Dan tentu punya kepentingan politik sendiri.
Keduanya memiliki modal yang berbeda. Pertanyaannya: siapa lebih membutuhkan siapa?. Dalam politik elektoral, popularitas dan mesin partai adalah dua kekuatan yang sering kali saling membutuhkan.
Popularitas bisa membuat seseorang dikenal masyarakat. Tetapi mesin partai diperlukan untuk mengorganisasi dukungan politik.
Sebaliknya, mesin partai juga membutuhkan figur yang bisa menarik suara. Di sinilah hubungan politik KDM dan Gerindra menjadi menarik untuk dibaca.
Jika KDM memiliki daya tarik elektoral yang besar, Gerindra tentu punya alasan untuk menjaga komunikasi politik dengannya. Namun, Gerindra juga tidak bisa hanya menggantungkan masa depan partai pada satu figur.
Baca Juga:Kader PKK Harus Jadi Garda Terdepan, Penanganan Anak Tidak Sekolah Hingga Urusan Sampah di Kota TasikmalayaPolitisi Belum Diverifikasi, 15 Peserta Sudah Masuk Sistem Seleksi Pendaftaran Pimpinan Baznas Kota Tasik
Partai harus punya kader sendiri. Harus punya regenerasi. Harus punya calon alternatif. Karena itu, munculnya nama Herdiat Sunarya dan Dony Ahmad Munir bisa dibaca sebagai upaya Gerindra membangun cadangan kekuatan politik.
Bukan berarti KDM langsung ditinggalkan. Tetapi Gerindra sedang memperlihatkan bahwa mereka punya pilihan. Di sisi lain, KDM juga harus menghitung peta politik.
Menjadi gubernur memang memberikan keuntungan sebagai petahana. Tetapi untuk kembali memenangkan kontestasi, popularitas saja tidak cukup.
Ada kebutuhan membangun koalisi. Ada komunikasi dengan partai politik. Ada konsolidasi di tingkat kabupaten dan kota.
