Dengan begitu, Gerindra mempunyai posisi tawar lebih besar ketika pembicaraan koalisi dimulai. Tiga skenario itu masih terbuka. Belum ada keputusan resmi yang bisa memastikan arah politik tersebut.
Ada satu pelajaran dari manuver itu. Dalam politik, kedekatan hari ini tidak selalu menjadi jaminan kebersamaan besok. Kepentingan bisa bertemu. Bisa pula berubah.
KDM membutuhkan dukungan politik untuk menjaga kekuatan pemerintahan dan elektoralnya. Gerindra membutuhkan figur yang bisa meningkatkan suara partai.
Baca Juga:Kuda Hitam Gerindra!Membaca Manuver Amir Mahpud: Herdiat-Dony untuk 2029, KDM ke Mana?
Jika kepentingan keduanya bertemu, kerja sama bisa berlanjut. Jika tidak, masing-masing tentu punya ruang untuk mengambil keputusan politik sendiri.
Dan jangan lupa, Pilgub 2029 masih akan dipengaruhi banyak faktor: kinerja pemerintahan, kondisi ekonomi, peta koalisi nasional, serta dinamika politik setelah Pemilu 2029.
Karena itu, terlalu dini menyebut Gerindra sedang meninggalkan KDM. Tetapi terlalu sederhana juga jika manuver Amir Mahpud dianggap hanya sebagai urusan kaderisasi biasa.
Sebab, dalam politik, nama yang mulai disebut hari ini bisa menjadi kandidat besok. Dan nama yang tidak disebut hari ini belum tentu tidak diperhitungkan.
Kesimpulannya: KDM punya panggung. Gerindra punya mesin. Herdiat dan Dony mulai disiapkan sebagai alternatif.
Pertarungan sesungguhnya mungkin belum dimulai. Tetapi satu hal sudah terlihat: Gerindra tidak ingin datang ke 2029 tanpa membawa kartu sendiri. (red)
