Keterlibatan berbagai pihak tersebut diharapkan dapat memperkuat pendampingan sekaligus memastikan keberlanjutan program setelah kegiatan pengabdian masyarakat selesai dilaksanakan.
Sementara itu, dosen pendamping dari Unisba, Dr. Imam Indratno, S.T., M.T., menjelaskan bahwa produk desiccated coconut memiliki prospek pasar yang cukup menjanjikan.
Dengan proses pengolahan dan pengemasan yang tepat, produk kelapa parut kering tersebut diklaim dapat memiliki masa simpan hingga satu tahun.
Baca Juga:OJK Catat 330 Pengaduan Keuangan di Ciamis, Warga Diingatkan Waspadai Modus PenipuanIPSI Cup XI Kota Tasikmalaya Diserbu 1.314 Atlet, Pembinaan Pesilat Muda Diuji di Arena
Produk ini juga berpotensi menjadi bahan baku bagi pelaku usaha kuliner, khususnya industri kue dan roti.
Dibandingkan kelapa parut segar, kelapa parut kering memiliki keunggulan dalam hal daya simpan, kemudahan penyimpanan, serta karakteristik aroma dan rasa gurih yang dapat memperkaya cita rasa makanan.
“Produk desiccated coconut memiliki peluang pasar yang cukup luas karena banyak dibutuhkan oleh pengusaha kue sebagai bahan baku. Selain lebih praktis dalam penyimpanan, aroma dan rasa gurihnya juga menjadi nilai tambah,” ungkap Imam.
Program Kosabangsa 2026 ini didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Pelaksanaannya berlangsung mulai September hingga Desember 2026.
Melalui program Kampung CocoNut RI, UBK dan Unisba berharap komoditas kelapa di Desa Gunungsari tidak lagi hanya dipasarkan sebagai hasil pertanian mentah, tetapi dapat berkembang menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah dan daya saing.
Lebih dari itu, program ini diharapkan mampu membuka peluang usaha baru bagi masyarakat, meningkatkan kesejahteraan petani, mendorong produktivitas ekonomi rumah tangga, serta memperkuat pemanfaatan pangan lokal dalam mendukung pemenuhan gizi keluarga dan pencegahan stunting. (lisnawati)
