Kampung CocoNut RI! Jurus UBK-Unisba Tingkatkan Nilai Jual Kelapa dan Perkuat Ketahanan Pangan Keluarga

Program Kampung CocoNut
Sosialisasi dan edukasi pengabdian masyarakat bertajuk Kampung CocoNut RI: Hilirisasi Kelapa Lokal sebagai Pangan Bergizi Keluarga dan Penggerak Ekonomi Desa Rawan Stunting di Desa Gunungsari, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu (31/10/2026). istimewa
0 Komentar

Untuk mendukung proses produksi, tim memperkenalkan teknologi pengolahan desiccated coconut menggunakan mesin khusus. Peralatan tersebut mampu memarut sekaligus mengeringkan kelapa dengan bantuan teknologi vakum.

Menurut Maria, penggunaan mesin ini membuat proses produksi lebih praktis dan efisien dibandingkan metode konvensional yang mengharuskan petani memarut kelapa secara manual, kemudian mengeringkannya secara terpisah. Mesin tersebut juga diserahkan kepada kelompok tani agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat.

Program ini melibatkan dua kelompok mitra utama, yakni kelompok tani kelapa lokal dan kader posyandu Desa Gunungsari.

Baca Juga:OJK Catat 330 Pengaduan Keuangan di Ciamis, Warga Diingatkan Waspadai Modus PenipuanIPSI Cup XI Kota Tasikmalaya Diserbu 1.314 Atlet, Pembinaan Pesilat Muda Diuji di Arena

Kelompok tani mendapatkan pendampingan dalam pengolahan kelapa menjadi produk setengah jadi bernilai ekonomi, sedangkan kader posyandu diberikan pelatihan pengembangan pangan olahan berbahan dasar kelapa.

Dalam kegiatan tersebut, para kader mendapatkan demonstrasi pembuatan sejumlah produk makanan, di antaranya cookies CocoNut RI, lady finger, serta brownies pistachio coconut. Produk-produk tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif pangan olahan yang dapat dikembangkan sebagai usaha rumah tangga.

Tidak hanya berorientasi pada peningkatan pendapatan, program ini juga mengintegrasikan aspek kesehatan keluarga, khususnya dalam upaya pencegahan stunting.

Maria menjelaskan, potensi kelapa lokal dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan pangan dalam pengembangan makanan tambahan bagi balita, termasuk sebagai alternatif bahan olahan untuk Pemberian Makanan Tambahan (PMT) maupun Makanan Pendamping ASI (MPASI), dengan tetap memperhatikan kebutuhan gizi dan kesesuaian usia anak.

Karena itu, kader posyandu dan para ibu yang memiliki balita juga mendapatkan edukasi mengenai pencegahan stunting melalui pemanfaatan pangan lokal.

“Harapannya, masyarakat tidak hanya memiliki pengetahuan tentang pentingnya pemenuhan gizi anak, tetapi juga mampu mengolah bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar menjadi produk makanan yang bermanfaat,” ujarnya.

Di sisi pemberdayaan ekonomi, para kader posyandu juga didorong untuk mengembangkan usaha produktif berbasis potensi lokal.

Baca Juga:Penjualan Online Tembus 60 Persen, JG Motor Targetkan Jadi Nomor Satu se-Jawa BaratRSUD dr. Soekardjo Hadirkan ICU Baru dengan 16 Tempat Tidur, Tebar Semangat "Setulus Hati Kami Melayani"

Produk olahan yang dihasilkan nantinya akan didampingi dalam pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), serta sertifikasi halal agar dapat dikembangkan menjadi produk UMKM yang memiliki legalitas usaha.

Program ini turut melibatkan Pemerintah Desa Gunungsari, pihak kecamatan, Puskesmas (PKM), serta Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI).

0 Komentar