Bisnis Kuliner di Tasikmalaya Punya Prospek Cerah, Pelanggan Tak Cukup Cuma Dibikin Penasaran

Kuliner Lokal Punya Rasa Kuat
Bakso khas Tasikmalaya berpeluang menjadi signature dish atau ikon kuliner yang memperkuat identitas kota. istimewa
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Bisnis food and beverage (F&B) di Kota Tasikmalaya masih menyimpan peluang besar.

Namun, di tengah menjamurnya pilihan tempat kuliner, menarik pelanggan datang ternyata bukan perkara tersulit.

Tantangan sesungguhnya adalah membuat mereka kembali, bukan sekadar mampir karena penasaran.

Baca Juga:STMIK DCI Jadi Pusat Inkubasi Robotika Jawa Barat, Kota Santri Bidik Ekosistem TeknologiTasikmalaya International Job Fair Diserbu 4.116 Pendaftar! Lowongan Tembus 7.222 Posisi, ini Jadwalnya

Dosen Universitas Islam Bandung (Unisba), Atie Rachmiatie, melihat kecenderungan konsumen yang mudah tertarik mencoba tempat kuliner baru, tetapi cepat beralih ketika muncul pilihan lain.

Fenomena itu ia amati selama sekitar empat tahun terakhir, termasuk saat membantu mengelola Bale Balong, rumah makan milik anaknya.

Ketika mulai beroperasi pada 2022, Bale Balong sempat ramai dikunjungi pelanggan, termasuk komunitas sepeda.

Namun, keramaian tersebut tidak berlangsung selamanya. Beberapa bulan kemudian, jumlah pengunjung mulai menurun.

Pengelola pun melakukan pembaruan menu dan kembali membangun komunikasi dengan komunitas untuk menjaga minat pelanggan.

Pengalaman itu menunjukkan bahwa promosi dan tren memang bisa menjadi pintu masuk, tetapi belum tentu menjamin keberlangsungan bisnis.

Setelah rasa penasaran konsumen terobati, pelaku usaha harus memiliki alasan lebih kuat agar pelanggan bersedia kembali.

Baca Juga:Denda PBB-P2 di Kota Tasikmalaya Dihapus Total, Tunggakan Lama Bisa Dipangkas 100 PersenGP Ansor Kritik Arah Pembangunan Kota Tasikmalaya, Jangan Cuma Bangga Jadi Kota Santri

Atie menilai, kualitas makanan, pelayanan, dan kecepatan penyajian menjadi faktor penting dalam menjaga loyalitas konsumen.

Sebab, pelanggan tidak hanya datang untuk menikmati makanan, tetapi juga mengharapkan pengalaman bersantap yang nyaman dan efisien.

“Kalau bisa, pelayanan itu 10 sampai 15 menit sudah selesai. Jangan sampai lebih dari 20 menit, karena orang juga punya kesibukan masing-masing,” ujarnya, Senin (26/10/2026).

Menurut dia, promosi melalui media sosial tetap diperlukan untuk memperkenalkan produk sekaligus membangun popularitas sebuah tempat kuliner.

Namun, promosi harus sejalan dengan kualitas produk dan pelayanan. Jangan sampai tempatnya ramai di media sosial, tetapi pengalaman pelanggan justru tidak sesuai ekspektasi.

Bagi pelaku usaha, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa popularitas sesaat tidak bisa dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan. Bisnis yang bertahan membutuhkan konsistensi, bukan hanya sensasi.

### Kuliner Lokal Bisa Jadi Identitas Kota ###

Di balik tantangan mempertahankan pelanggan, Tasikmalaya memiliki potensi kuliner lokal yang dapat dikembangkan menjadi keunggulan bisnis.

0 Komentar