Atie menilai, bakso khas Tasikmalaya berpeluang menjadi signature dish atau ikon kuliner yang memperkuat identitas kota.
Menurut pengamatannya, bakso Tasikmalaya memiliki cita rasa khas yang membedakannya dari produk serupa di daerah lain.
Potensi tersebut perlu dijaga melalui konsistensi rasa, terutama ketika produk mulai dipasarkan ke luar daerah.
Baca Juga:STMIK DCI Jadi Pusat Inkubasi Robotika Jawa Barat, Kota Santri Bidik Ekosistem TeknologiTasikmalaya International Job Fair Diserbu 4.116 Pendaftar! Lowongan Tembus 7.222 Posisi, ini Jadwalnya
Atie mencontohkan pengalamannya mencicipi bakso asal Tasikmalaya yang dijual di Bandung.
Ia merasakan adanya perbedaan cita rasa dibandingkan produk yang sama ketika dinikmati di Tasikmalaya.
Bagi pelaku usaha, menjaga keotentikan rasa menjadi pekerjaan penting ketika memperluas pasar.
Sebab, membawa nama daerah ke luar kota bukan sekadar memperbanyak penjualan, melainkan juga menjaga reputasi produk yang sudah dikenal konsumen.
Selain bakso, ikan mas dari kolam lokal Tasikmalaya juga dinilai memiliki keunggulan.
Berdasarkan pengalamannya, ikan mas Tasikmalaya cenderung memiliki tubuh lebih ramping dengan daging bercita rasa gurih dan manis dibandingkan ikan mas yang ditemuinya di Bandung.
Karakteristik tersebut dapat menjadi nilai tambah untuk dikembangkan sebagai produk kuliner unggulan.
Baca Juga:Denda PBB-P2 di Kota Tasikmalaya Dihapus Total, Tunggakan Lama Bisa Dipangkas 100 PersenGP Ansor Kritik Arah Pembangunan Kota Tasikmalaya, Jangan Cuma Bangga Jadi Kota Santri
Dengan pengolahan dan pemasaran yang tepat, bahan pangan lokal bukan hanya menjadi komoditas, tetapi juga bagian dari daya tarik ekonomi daerah.
Atie juga mendorong pelaku usaha kuliner mengubah cara pandang dalam menghadapi persaingan.
Alih-alih sibuk merebut pelanggan dari usaha lain, pelaku bisnis dinilai perlu membangun kolaborasi dengan mengangkat keunggulan masing-masing.
Setiap usaha memiliki karakter, resep, dan segmen pasar yang berbeda.
Perbedaan itu justru dapat menjadi kekuatan jika dikelola melalui kerja sama, termasuk dalam pertukaran pengetahuan, pengembangan produk, promosi, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Musim sekarang bukan kompetitor, tetapi kolaborasi. Resep di sana punya apa, di sini apa. Semuanya pasti punya kelebihan dan kekurangan, punya ciri khas masing-masing, dan ada pasarnya masing-masing,” katanya.
Kolaborasi juga perlu menyentuh peningkatan kompetensi tenaga kerja, terutama dalam pelayanan konsumen.
Dengan demikian, pengembangan bisnis kuliner tidak berhenti pada penambahan jumlah gerai, tetapi turut meningkatkan kualitas layanan dan daya saing usaha.
Di tingkat yang lebih luas, Atie menilai Tasikmalaya masih membutuhkan penguatan citra sebagai destinasi kuliner.
