SMPN 17 Tasikmalaya Perkuat Karakter Guru, Dorong Dampak Positif Bagi Murid

Workshop Character Building SMPN 17 Tasikmalaya
Guru dan tenaga kependidikan SMPN 17 Tasikmalaya saat mengikuti workshop character building, Rabu (21/10/2026). (Fitriah Widayanti/radartasik.id)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Pembentukan karakter murid tidak bisa dilepaskan dari keteladanan guru dalam keseharian di sekolah. Berangkat dari pemahaman itu, SMPN 17 Tasikmalaya menggelar Workshop Character Building selama dua hari, Selasa-Rabu (20–21/10/2026), untuk mengoptimalkan kinerja guru dan tenaga kependidikan agar berdampak positif terhadap murid.

Kegiatan yang dibiayai melalui Bantuan Operasional Sekolah (BOS) ini menjadi agenda rutin sekolah dalam meningkatkan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan.

Kepala SMPN 17 Tasikmalaya, Uzaz Solihat SPd, MPd., mengatakan, penguatan karakter guru menjadi bagian penting dalam upaya menumbuhkan nilai-nilai positif pada murid. Nilai yang ingin dikembangkan meliputi disiplin, tanggung jawab, toleransi, dan kolaborasi dalam proses pembelajaran.

Baca Juga:148 Lulusan UBK Tasikmalaya Diwisuda, Siap Mengabdi di Dunia KesehatanWKP Geothermal Galunggung Ditetapkan Sejak 2014, Target Investasi Rp4,4 Triliun

“Bagaimana kita bisa merubah karakter anak, kalau kitanya saja sebagai guru karakternya masih perlu dioptimalkan tentunya,” ujar Uzaz.

Pada hari pertama, workshop diisi dengan penyampaian materi oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya, Rojab Riswan Taufik dan pengawas sekolah. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan simulasi pembelajaran yang melibatkan guru sebagai peserta sekaligus pelaksana praktik.

Dalam sesi simulasi, 11 guru mendapat kesempatan mempraktikkan kegiatan belajar mengajar di depan peserta lain. Praktik ini menjadi bagian dari upaya menerapkan pembelajaran yang mendorong murid merasa nyaman, senang, serta terlibat aktif dalam proses belajar.

Uzaz mengatakan, simulasi tersebut tidak sekadar menjadi praktik selama workshop, tetapi diharapkan dapat diterapkan secara konsisten dalam pembelajaran di kelas. Melalui evaluasi bersama, guru dapat menilai sejauh mana praktik yang dilakukan telah sesuai dengan pendekatan pembelajaran yang diharapkan.

Memasuki hari kedua, kegiatan berlanjut dengan materi dari Dadang Bastaman. Sesi yang berlangsung hampir empat jam itu diarahkan pada penguatan integritas, kepedulian terhadap lingkungan sekolah, rasa memiliki, dan kerja sama antarguru.

Uzaz menilai, penguatan karakter perlu terus dipelihara di lingkungan sekolah. Karena itu, workshop tidak hanya dirancang untuk menambah pengetahuan, tetapi juga mendorong perubahan sikap dalam menjalankan tugas sebagai pendidik.

“Ilmu kami sudah banyak, teman-teman juga sudah banyak mendapatkan ilmu, termasuk dari YouTube. Tapi untuk mengubah sikap dan perilaku, kadang-kadang kita perlu sentuhan hati. Jadi, bukan hanya ilmunya yang perlu diperkuat, tetapi juga hatinya,” katanya.

0 Komentar