TASIK, RADARTASIK.ID – Potensi raksasa destinasi wisata Situ Gede dan kawasan Cibeureum hingga kini dinilai hanya jadi “macan kertas”.
Aset bernilai tinggi milik Kota Tasikmalaya tersebut terkesan dibiarkan melempem tanpa penataan konkret, padahal berpotensi besar memompa Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekaligus menyediakan ruang rekreasi publik yang layak.
Kondisi “jalan di tempat” ini memantik kritik pedas dari kalangan legislatif.
Baca Juga:Kemiskinan Kota Tasikmalaya Turun ke 9,34 Persen, Viman: Berkat Kerja Kompak Bersama Seluruh PihakListriknya Terang, PAD-nya Remang-Remang
Anggota Komisi II DPRD Kota Tasikmalaya, Kepler Sianturi, menyentil Pemkot Tasikmalaya yang dianggap tidak punya roadmap atau konsep yang jelas dalam mengeksekusi penataan aset daerah.
“Situ Gede itu potensinya luar biasa, tapi kasihan kalau cuma dianggurkan tanpa konsep yang terarah. Jangan sampai aset segede itu cuma jadi hiasan peta Kota Tasik tanpa memberi nilai tambah buat daerah dan warga,” celetuk Kepler kepada Radar Tasikmalaya, Kamis (15/10/2026).
Kepler menekankan, lemahnya tata kelola membuat fungsi rekreasi, olahraga, dan kegiatan sosial warga menjadi tidak maksimal.
Menurutnya, pemkot jangan melulu memamerkan janji manis penataan jika kebutuhan paling mendasar warga akan ruang publik yang nyaman saja gagal dipenuhi.
“Prinsipnya, aset yang ada harus ditata betul-betul. Jangan cuma sibuk membayangkan PAD, tapi ruang rekreasi dan olahraga warga malah diabaikan. Dua-duanya harus jalan beriringan, bukan sekadar teori di atas kertas,” tegasnya.
Ia juga menyoroti kebiasaan Pemkot Tasikmalaya yang kerap “bersembunyi” di balik alasan keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Padahal, ada pintu kolaborasi lewat Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan maupun bantuan kementerian yang belum digarap secara agresif.
Baca Juga:Jangan Biarkan Kebaikan Terpecah! Zikir Bersama Jadi Ikhtiar Satukan Pedagang Pasar Cikurubuk Kota TasikmalayaAMI: Kritisnya Kapan-Kapan!
“Kalau cuma mengandalkan APBD ya terus-terusan mengeluh tidak ada uang. Di sini dituntut kejelian wali kota dan jajarannya untuk jemput bola. Komunikasi ke perusahaan lewat CSR atau ke kementerian seperti Kemenpupera itu harus dikejar, jangan cuma nunggu bola jatuh dari langit,” cetusnya penuh sindiran.
Secara khusus, Kepler “menyemprit” Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Kota Tasikmalaya agar bekerja lebih kreatif dan tidak sekadar menjalankan rutinitas formalitas.
Perencanaan dan pemetaan potensi aset dinilai masih sangat lemah sehingga investor maupun perusahaan enggan menyalurkan CSR-nya.
