TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Kerajinan bambu Kota Tasikmalaya punya peluang menembus pasar internasional.
Namun, peluang itu tak cukup berhenti di stan pameran atau produk yang laku di pasar lokal.
Pengrajin ditantang naik kelas, dari produsen skala kecil menjadi pemasok industri hingga eksportir.
Baca Juga:Listriknya Terang, PAD-nya Remang-RemangJangan Biarkan Kebaikan Terpecah! Zikir Bersama Jadi Ikhtiar Satukan Pedagang Pasar Cikurubuk Kota Tasikmalaya
Ambisi tersebut mengemuka dalam pembukaan Priangan Bamboofest 2026 di Gedung PPIK, Rabu (14/10/2026).
Kegiatan yang memasuki tahun kedua itu dibuka Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan, dengan menghadirkan 100 stan, terdiri atas 60 stan produk kriya dan kerajinan serta 40 stan kuliner.
Priangan Bamboofest diinisiasi Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Kota Tasikmalaya bersama Pemerintah Kota Tasikmalaya.
Agenda ini diarahkan untuk memperluas pemasaran produk sekaligus mendorong pelaku usaha meningkatkan kapasitas produksi dan jangkauan bisnis.
Ketua Pelaksana Priangan Bamboofest 2026, Abun Benyamin, mengatakan pengembangan usaha menjadi sasaran utama kegiatan tersebut.
Menurutnya, pengrajin perlu memiliki kesempatan untuk berkembang, bukan sekadar bertahan dengan produksi skala kecil.
“Tujuan utama untuk meningkatkan kelas pengusaha, dari pengrajin naik jadi supplier, supplier naik jadi eksportir. Dengan adanya kegiatan usaha yang lebih besar, otomatis mempekerjakan lebih banyak orang dan membantu pemerintah dalam menanggulangi pengangguran,” kata Abun.
Baca Juga:AMI: Kritisnya Kapan-Kapan!Ketidakharmonisan Viman-Diky Jadi Sorotan, ASN Terancam Terjebak Kubu-Kubuan
Tantangannya, peluang promosi harus berujung pada transaksi, kemitraan, dan peningkatan kapasitas usaha.
Sebab, ramai pengunjung di arena pameran belum otomatis membuat pelaku kerajinan mampu menembus rantai pasok industri yang lebih besar.
Peserta Priangan Bamboofest tahun ini juga datang dari luar Priangan Timur, di antaranya Sukabumi, Sumedang, dan Cirebon.
Keterlibatan pelaku usaha lintas daerah diharapkan memperluas pasar sekaligus membuka peluang kerja sama.
Di tengah upaya menaikkan kelas pengrajin, bambu menjadi salah satu komoditas yang dibidik untuk memperkuat industri kriya.
Bahan baku ini tidak hanya dimanfaatkan untuk kerajinan tradisional, tetapi juga dapat diolah menjadi bambu laminasi sebagai alternatif material kayu.
Abun menyebut nilai bambu laminasi berpotensi menarik bagi pelaku usaha.
“Sekarang banyak beralih ke bambu laminasi. Harganya lebih bagus, satu kubik bisa mencapai Rp18 juta,” terangnya.
