Potensi nilai tambah tersebut membutuhkan dukungan bahan baku yang memadai.
Karena itu, HIMKI berencana mendata lahan potensial di setiap kelurahan di Kota Tasikmalaya untuk pengembangan budidaya bambu.
Pemetaan selanjutnya diarahkan untuk menjajaki pengembangan di kawasan Priangan Timur.
Sejumlah lahan telah teridentifikasi. Di wilayah Sukajaya, Kecamatan Purbaratu, terdapat lahan sekitar 15 hektare, sedangkan di Sukaraja tercatat potensi lahan sekitar 20 hektare.
Pengembangan budidaya juga perlu mempertimbangkan jenis bambu sesuai kebutuhan industri.
Bambu bitung dan gombong dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku laminasi karena memiliki batang berukuran besar. Sementara itu, bambu tali lebih banyak digunakan untuk produk kerajinan.
Baca Juga:Listriknya Terang, PAD-nya Remang-RemangJangan Biarkan Kebaikan Terpecah! Zikir Bersama Jadi Ikhtiar Satukan Pedagang Pasar Cikurubuk Kota Tasikmalaya
Ketersediaan bahan baku menjadi faktor penting agar pengembangan industri tidak hanya bergantung pada permintaan pasar, tetapi juga ditopang pasokan yang berkelanjutan.
Peluang pasar internasional bukan sekadar angan-angan. Abun menyebut sejumlah anggota HIMKI Kota Tasikmalaya telah mengekspor produk kerajinan ke Eropa dan Amerika.
Volume pengiriman dari anggota HIMKI bahkan dapat mencapai 12 kontainer dalam sebulan.
Capaian tersebut menjadi modal bagi pengembangan industri kerajinan lokal. Namun, peningkatan skala usaha tetap membutuhkan kesinambungan produksi, ketersediaan bahan baku, serta kemampuan memenuhi permintaan pasar ekspor.
Sementara itu, Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan menilai Priangan Bamboofest menjadi ruang kolaborasi antara pelaku usaha, pemerintah, asosiasi, dan komunitas untuk mengembangkan potensi ekonomi daerah.
Menurutnya, bambu memiliki keterkaitan erat dengan industri kriya Kota Tasikmalaya sehingga berpeluang dikembangkan sebagai identitas khas daerah sekaligus bagian dari strategi city branding.
“Kenapa bambu karena bambu identik dengan kriyanya Kota Tasikmalaya. Ke depan bambu harus jadi kekhasan Kota Tasikmalaya, kita harus punya brand,” tuturnya.
Baca Juga:AMI: Kritisnya Kapan-Kapan!Ketidakharmonisan Viman-Diky Jadi Sorotan, ASN Terancam Terjebak Kubu-Kubuan
Bagi Kota Tasikmalaya, pekerjaan rumahnya bukan sekadar menjadikan bambu sebagai ikon promosi.
Potensi tersebut perlu diterjemahkan menjadi ekosistem industri yang kuat, mulai dari budidaya bahan baku, pengolahan, peningkatan kapasitas pengrajin hingga perluasan pasar.
Sebab, identitas daerah akan lebih bermakna ketika bukan hanya dikenal lewat produk, tetapi juga mampu menggerakkan usaha, menyerap tenaga kerja, dan menghasilkan nilai ekonomi berkelanjutan. (Fitriah Widayanti)
