Hadapi Ancaman Megathrust, Pemkab Pangandaran Diminta Benahi Jalur Evakuasi

peta jalur evakuasi pangandaran
Petugas sedang memasang petunjuk jalur evakuasi Tsunami di Pangandaran, beberapa waktu lalu. (Foto: Deni Nurdiansah/Radar Tasikmalaya)
0 Komentar

PANGANDARAN, RADARTASIK.ID – Menghadapi potensi bencana gempa Megathrust dan Tsunami, Pemkab harus memperhatikan langkah mitigasi. Salah satunya memastikan jalur evakuasi memadai untuk digunakan ketika bencana terjadi.

Ketua Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Pangandaran Nana Suryana mengatakan mitigasi bencana bagi masyarakat Pangandaran wajib dilakukan.

“Apalagi di Pangandaran yg pesisirnya cukup panjang, bukan hanya untuk warga lokal tapi didatangi ribuan wisatawan setiap minggunya, bahkan perluasan kawasan wisata justru banyak di wilayah berisiko besar,” katanya Kamis (10/9/2026).

Baca Juga:Kadin, Kursi Rp100 Juta dan Kartu Merah!Malik Mahpud dan Burung Macaw!

Khusus bagi warga di pesisir pantai, memahami risiko wilayah dan memetakan roadmap directory peta rawan bencana sudah jadi keharusan. Sehingga tidak keliru mengambil langkah saat terjadi bencana.

“Pertanyaan nyah sudah sejauh mana hal ini disiapkan? apakah warga dan wisatawan sudah paham apa yang harus dilakukan saat gempa terjadi? apakah tempat evakuasi sudah disiapkan dan mencukupi? apakah peralatan darurat dan kebutuhan dasar sudah disiapkan dan mencukupi? Apakah semua steakholder sudah peduli terhadap upaya kesiapsiagaan dini,” ungkap pria yang disapa Nay ini.

Jalur evakuasi merupakan hal yang perlu diperhatikan oleh pemerintah, karena kawasan wisata pantai Pangandaran cukup jauh ke titik dataran tinggi. Ada pun dataran tinggi yang relatif dapat dijangkau yakni cagar alam dan wilayah Desa Sukahurip serta Purbahayu.

Sementara akses jalannya ke area yang relatif aman tersebut masih kecil dengan petunjuk arah masih minim. Sehingga perlu menjadi bahan evaluasi pemerintah untuk membangun akses evakuasi yang memadai. “Pernah diuji coba jalan cepat, bukan lari karena mempertimbangkan anak-anak dan lansia dari pantai barat (ujung tol) sampai ke Purbahayu/Sukahurip itu makan waktu lebih dari setengah jam,” katanya.

Smentara, golden time setelah terjadi gempa hingga ke tsunami durasinya antara 10 sampai 20 menit. Jangkauan gelombang Tsunami, kata dia, sempat disimulasikan bersama BMKG, Desa Pangandaran dan Pananjung masuk zona merah, jangkauan air sampai ke wilayah pesawahan Purbahayu.

“Dan jalur evakuasi kita melewati dataran paling rendah yaitu area pesawaan sukahurip dan purbahayu, terlihat merah, artinya genangan airnya paling tinggi,” katanya.(Deni Nurdiansah)

0 Komentar