Selain itu, margin laba kotor berpotensi mengalami ekspansi seiring dengan meningkatnya proporsi pekerjaan internal yang ditargetkan mencapai 100 persen.
Kondisi harga batu bara yang masih berada pada level relatif tinggi juga menjadi faktor pendukung terhadap prospek bisnis perseroan.
Dari sisi tarif pekerjaan, manajemen memperkirakan tarif untuk proyek PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal akan relatif datar sepanjang 2026. Namun, tarif secara konsolidasi berpeluang mengalami sedikit peningkatan setelah DEWA mulai mengerjakan kontrak di PT Sebuku Sejaka Coal.
Baca Juga:Penjualan Ritel Juli 2026 Diproyeksi Tumbuh 0,9 Persen, Akhiri Tren Kontraksi 3 BulanKlaim BPJS Ketenagakerjaan Kini Bisa Online, Peserta Tasikmalaya Diminta Manfaatkan Lapak Asik
Kontrak baru tersebut diperkirakan memiliki tarif pekerjaan yang lebih tinggi dibandingkan proyek-proyek yang telah berjalan.
Dengan demikian, pertumbuhan kinerja DEWA pada semester II 2026 diperkirakan lebih banyak berasal dari peningkatan volume pekerjaan dibandingkan kenaikan tarif.
Meski prospek paruh kedua tahun ini dinilai positif, DEWA tetap menghadapi sejumlah risiko. Salah satu perhatian utama adalah hasil revisi kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.
Perubahan kuota produksi tersebut dapat berdampak langsung terhadap volume aktivitas pertambangan yang dilakukan oleh para klien DEWA. Semakin rendah volume produksi yang diizinkan, semakin besar potensi dampaknya terhadap volume pekerjaan dan pendapatan kontraktor pertambangan.
Secara keseluruhan, tambahan kontrak, dimulainya pekerjaan di Sebuku Sejaka Coal, serta peningkatan porsi pekerjaan internal menjadi katalis penting bagi DEWA pada semester II 2026. Namun, realisasi kinerja tetap perlu dicermati bersama perkembangan volume produksi klien dan hasil revisi RKAB 2026. (snd/stb)
