Volume penjualan ITMG sepanjang semester I 2026 meningkat sekitar 5 persen YoY, sementara harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) tumbuh 4 persen YoY.
Kombinasi kedua faktor tersebut menjadi penopang utama pertumbuhan pendapatan dan laba bersih perseroan pada semester pertama tahun ini.
Investment Analyst Stockbit, Everson Sugianto menilai, dengan realisasi laba bersih sebesar US$106 juta, ITMG masih berada dalam jalur pencapaian target 2026. Namun, prospek kinerja pada paruh kedua tahun ini masih menghadapi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan investor.
Baca Juga:Investor Tembus 28 Juta, Wamenkeu Dorong Pasar Modal Indonesia Makin Dalam dan LikuidHonda Genio x Ultima II Jadi Panggung MUA Bandung, Karya Makeup Bertema Kemerdekaan Bikin Kagum
Salah satu faktor utama yang akan menentukan kinerja ITMG sepanjang 2026 adalah hasil revisi kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
Sejumlah tambang milik perseroan sebelumnya mengalami pemangkasan kuota produksi karena tidak memiliki perizinan PKP2B generasi pertama atau IUPK.
Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kemampuan ITMG dalam meningkatkan volume produksi dan penjualan pada paruh kedua 2026.
Karena itu, realisasi kinerja perseroan hingga akhir tahun akan sangat bergantung pada keputusan terkait revisi kuota produksi tersebut. Jika kuota produksi dapat kembali meningkat, ruang bagi ITMG untuk meningkatkan volume penjualan akan menjadi lebih besar.
Sebaliknya, apabila pembatasan kuota berlanjut, pertumbuhan volume penjualan berpotensi tetap terbatas dan dapat menjadi tantangan bagi pencapaian target kinerja 2026. (snd/stb)
