Ironisnya, di tengah berbagai keterbatasan itu, permintaan produk anyaman bambu justru masih tinggi.
Hasil kerajinan dari Situ Beet tetap diminati berbagai daerah di Indonesia, bahkan telah menembus pasar Malaysia hingga Jepang.
Kondisi tersebut menunjukkan persoalan utama bukan minimnya pasar, melainkan keberlangsungan produksi yang mulai tersendat.
Baca Juga:Perisai Diri Cabang Kota Tasikmalaya Bidik 1.000 Anggota Baru, ini AlasannyaAsep Ramdan Terpilih Aklamasi Pimpin GP Ansor Bungursari, Usung Semangat Satu Barisan Satu Pengabdian
Jika tidak segera mendapat perhatian, dikhawatirkan warisan kerajinan bambu hanya akan hidup di panggung festival, tetapi perlahan menghilang dari tangan para perajinnya.
Melalui Kibar Budaya, Ucu berharap semangat generasi muda untuk mengenal dan meneruskan tradisi kerajinan bambu kembali tumbuh. Ia juga ingin kegiatan budaya menjadi ruang yang mampu menghidupkan optimisme masyarakat Situ Beet.
“Melalui kesenian dan pentas budaya ini, kami berharap dapat membangkitkan kembali semangat serta ketertarikan generasi muda terhadap warisan budaya. Kami juga berharap Kibar Budaya menjadi ruang kebahagiaan bagi warga Situ Beet,” pungkasnya. (rezza rizaldi)
