Dalam pendistribusian yang dilakukan, BPBD menempatkan air di satu penampungan besar baik tandon air atau alternatif lainnya. Salah satunya membuat wadah air jumbo yang dibuat dengan terpal seperti di wilayah Singkup dengan kapasitas sekitar 3.000 liter.
Mekanisme tandon tersebut dinilai lebih efektif karena air dapat ditampung terlebih dahulu sehingga armada BPBD bisa lebih cepat bergerak untuk melayani titik lainnya.
”Makanya kita pakai tandon, supaya bisa lebih cepat. Armada juga bisa memetakan titik lain yang membutuhkan,” jelasnya.
Baca Juga:Membentuk Satgas Penertiban Parkir di Kota Tasikmalaya Butuh Tambahan Biaya, Dewan Belum Pahami Konsep DishubDiky Candra Dorong Lansia di Kota Tasikmalaya Tetap Produktif
Budi menambahkan, penanganan krisis air bersih juga dilakukan melalui kolaborasi dengan pihak swasta. Sebab, jika hanya mengandalkan armada BPBD, kemampuan distribusi masih terbatas.
Sejumlah pihak swasta turut membantu pendistribusian air bersih. Sementara untuk kendaraan pengangkut air, BPBD turut mengerahkan armada yang dimiliki.
”Kita berkolaborasi dengan pengusaha untuk pendistribusian air bersih. Ada PT Dollar, kemudian dari Plaza Asia juga ada,” katanya.
Di sisi lain, hujan yang turun dalam dua hari terakhir di sejumlah wilayah Kota Tasikmalaya diharapkan memberikan dampak positif terhadap kondisi kekeringan. Namun diharapkan ke depannya hujan bisa kembali turun supaya memaksimalkan sumber air yang ada. “Kalau keadaan ini terus berlanjut, bisa meningkatkan muka air dan berpengaruh ke dalam sumur,” tuturnya.(Rezza RIzaldi/Firgiawan)
