Longser Sunda, Warisan yang Menolak Padam di Panggung Rakyat Tasikmalaya

sejarah teater Longser
Para seniman longser sedang melakukan latihan. istimewa for radartasik.id
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Tidak semua warisan budaya hilang karena zaman. Sebagian justru memudar karena ruangnya perlahan disempitkan.

Longser, teater rakyat khas Sunda yang pernah menjadi denyut kehidupan masyarakat Priangan, adalah salah satunya.

Di tengah derasnya hiburan digital, Longser tetap menyimpan daya hidup sebagai seni yang lahir dari rakyat, berbicara dengan bahasa rakyat, dan selalu berpihak kepada rakyat.

Baca Juga:Kapolres Tasikmalaya Kota Berganti Tongkat KomandoPerangi Bullying, Madrasah Ramah Anak Dideklariskan di Mapolres Tasikmalaya Kota

Sejak dipercaya tumbuh sekitar tahun 1915, Longser berkembang menjadi salah satu bentuk teater tradisional paling membumi di Jawa Barat.

Berbeda dengan pertunjukan istana yang penuh tata cara dan jarak sosial, Longser justru lahir di ruang-ruang terbuka—di alun-alun, pelataran stasiun, terminal, hingga persimpangan kampung. Di sanalah panggung dan penonton melebur tanpa sekat.

Longser bukan sekadar hiburan. Di balik gelak tawa yang mengundang penonton berkumpul, tersimpan kritik sosial yang disampaikan secara halus namun mengena.

Kelakar menjadi bahasa perlawanan, sementara humor menjadi cara masyarakat menyampaikan keresahan tanpa kehilangan kesantunan khas Sunda.

Nama Longser sendiri dipercaya berasal dari gabungan kata melong yang berarti melihat dan kaser yang berarti tertarik atau terpikat.

Filosofinya sederhana tetapi kuat: siapa pun yang melihat pertunjukan ini akan larut hingga akhir cerita.

Daya tarik tersebut lahir dari perpaduan akting improvisatif, musik langsung, dialog spontan, dan kedekatan emosional antara pemain dengan penonton.

Baca Juga:Predikat WTP Bukan Jaminan Warga Kota Tasikmalaya Sudah SejahteraBabak Penting Kasus Content Creator Kota Tasikmalaya, Jaksa Tuntut SL 1,5 Tahun Penjara dan Denda Rp 20 Juta

Pada masa kejayaannya antara dekade 1920 hingga 1960-an, grup-grup seperti Bang Tilil, Bang Soang, Bang Tawes, Bang Timbel, hingga Bang Cineur menjadi ikon hiburan masyarakat Priangan.

Pertunjukan digelar dengan penerangan sederhana menggunakan oncor, sementara penonton duduk melingkar mengelilingi arena.

Tidak ada batas panggung yang memisahkan pemain dengan masyarakat. Semua menjadi bagian dari cerita.

Model pertunjukan seperti itu justru melahirkan kekuatan utama Longser. Para aktor dituntut piawai berimprovisasi, merespons celetukan penonton, sekaligus menjadikan interaksi sebagai bagian dari lakon. Sebuah bentuk teater yang hidup karena dialog, bukan sekadar hafalan naskah.

Namun, perubahan zaman perlahan menggeser ruang hidup Longser. Modernisasi, bergesernya pola hiburan, hingga minimnya ruang ekspresi budaya membuat panggung rakyat ini semakin jarang terlihat.

0 Komentar