Selain itu, materi pengelolaan keuangan organisasi hingga penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Organisasi (RAPBO) juga menjadi perhatian serius. Pengurus diminta mengelola keuangan secara transparan dan akuntabel karena menyangkut amanah anggota.
“Pengelolaan keuangan yang bersih akan melahirkan kepercayaan. Sebaliknya, pengelolaan yang abai dapat meruntuhkan organisasi dari dalam,” ucapnya.
Orientasi tersebut juga menanamkan nilai etika, integritas, loyalitas, dan disiplin organisasi kepada seluruh pengurus cabang. Para peserta diminta mengedepankan kepentingan organisasi dibanding kepentingan pribadi maupun kelompok.
Baca Juga:DPD Partai Golkar Kabupaten Tasikmalaya Sembelih 4 Sapi dan 6 Domba pada Iduladha 1447 Hijiriah GTRA Plus Siap Bongkar Permasalahan Tanah di Kabupaten Tasikmalaya, Ini Kata Agustiana!!
Dalam kesempatan itu, Ade kembali mengingatkan pentingnya memahami dan menjalankan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) sebagai konstitusi organisasi.
“Tidak boleh ada kebijakan maupun tindakan pengurus yang bertentangan dengan aturan organisasi,” bebernya.
Ia menambahkan, tanpa pemahaman AD dan ART, organisasi akan berjalan tanpa arah dan aturan. Karena itu, seluruh pengurus wajib membaca, memahami, dan mengamalkannya secara konsisten.
Menurut Ade, orientasi kepengurusan bukan sekadar kegiatan administratif ataupun seremonial, melainkan bagian dari upaya menjaga masa depan organisasi agar tetap kokoh dan dipercaya anggota.
“Orientasi ini adalah ruang belajar bersama agar PGRI tetap berdiri tegak sebagai rumah besar guru Indonesia. PGRI yang kuat lahir dari pengurus yang paham aturan dan setia pada nilai-nilai organisasi,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan para pengurus cabang untuk terus menjaga semangat pengabdian dalam berorganisasi dan tidak menjadikan jabatan sebagai sarana mencari keuntungan pribadi.
“Apa yang telah kita berikan untuk membesarkan PGRI, jangan sekali-kali berpikir apa yang telah kita peroleh dari PGRI,” pungkasnya. (obi)
