Bagian paling tajam dari kritik Adani adalah ketika ia membandingkan Milan saat ini dengan era legendaris Arrigo Sacchi dan Silvio Berlusconi.
Menurutnya, Milan selama ini dikenal dunia bukan hanya karena trofi, tetapi juga karena filosofi sepak bola menyerang dan atraktif.
“Milan bukan sirkus. Milan adalah sejarah dan budaya. Sejak era Sacchi dan Berlusconi, Milan identik dengan tontonan sepak bola yang indah,” tegas Adani.
Baca Juga:Jadi Sasaran Kemarahan Fans AC Milan, Petugas Keamanan Kawal Ibrahimovic Hingga Tempat Parkir4 Tahun Lalu Masih Main di Serie D, Fans Como Tak Percaya Timnya Lolos ke Liga Champions
Ia merasa filosofi tersebut kini perlahan menghilang dari San Siro. Milan dinilai terlalu pragmatis dan kehilangan keberanian bermain menyerang seperti identitas klasik mereka.
Adani juga menyindir pendekatan Allegri yang dianggap terlalu fokus pada hasil akhir dibanding perkembangan permainan tim.
“Ketika tim lain bermain setiap tiga hari, Milan sebenarnya punya keuntungan karena kondisi mereka lebih segar. Tapi yang terjadi justru mereka kehilangan energi di akhir musim,” katanya.
Kegagalan lolos ke Liga Champions membuat masa depan Allegri kini berada dalam tekanan besar.
Suporter Milan sebelumnya juga sudah meluapkan kemarahan kepada manajemen dan Zlatan Ibrahimovic setelah kekalahan dari Cagliari.
Curva Sud bahkan meneriakkan protes keras sepanjang menit-menit akhir pertandingan dan meminta pemilik klub Gerry Cardinale menjual Milan.
Kini, komentar keras dari Adani diperkirakan akan semakin memperbesar tekanan terhadap Allegri dan manajemen Rossoneri.
Baca Juga:Di Canio Tuding AS Roma Lolos ke Liga Champions karena Bunuh Diri AC Milan dan JuventusSihir Gasperini Bawa AS Roma Kembali ke Liga Champions Setelah Absen 7 Tahun
Evaluasi besar disebut akan segera dilakukan dalam beberapa hari ke depan. Tidak hanya terhadap pelatih, tetapi juga struktur klub dan arah proyek olahraga Milan secara keseluruhan.
Bagi Adani, Milan hanya bisa bangkit jika kembali menemukan identitas asli mereka: bermain indah, agresif, dan penuh keberanian seperti pada era kejayaan Sacchi dan Berlusconi.
