4 Tahun Lalu Masih Main di Serie D, Fans Como Tak Percaya Timnya Lolos ke Liga Champions

fans Como
Ilustrasi fans Como Foto: Tangkapan layar Instagram@comofootball
0 Komentar

Sepanjang musim, Fabregas memang kerap dikritik karena tetap memaksakan gaya bermain atraktif meski Como bukan tim unggulan.

Namun pendekatan tersebut justru menjadi kekuatan utama klub asal Lombardia itu.

Setelah memastikan tiket Liga Champions, Fabregas sendiri mengaku masih sulit mempercayai pencapaian tersebut.

Baca Juga:Di Canio Tuding AS Roma Lolos ke Liga Champions karena Bunuh Diri AC Milan dan JuventusSihir Gasperini Bawa AS Roma Kembali ke Liga Champions Setelah Absen 7 Tahun

“Ini emosi yang luar biasa. Kami bahkan belum benar-benar sadar bahwa kami akan bermain di Liga Champions bersama para pemain muda ini,” ujar Fabregas.

Ia menyebut keberhasilan Como bukan hanya kemenangan untuk tim, tetapi juga untuk seluruh kota dan masyarakat Como.

“Ini cerita penting untuk Como dan rakyatnya,” kata pelatih asal Spanyol tersebut.

Yang membuat pencapaian Como semakin terasa sensasional adalah fakta bahwa mereka berhasil menggeser dua raksasa Italia, AC Milan dan Juventus.

Milan harus puas finis di posisi kelima setelah kalah dramatis 1-2 dari Cagliari di San Siro.

Sementara Juventus terlempar ke posisi keenam usai hanya bermain imbang 2-2 melawan Torino dalam Derby della Mole.

Akibatnya, dua klub besar tersebut harus turun ke Liga Europa, sedangkan Como justru tampil di Liga Champions.

Baca Juga:Como Lolos ke Liga Champions, Fabregas: Saya Banyak Dikritik Karena Bermain Menyerang untuk MenangAC Milan Gagal Lolos ke Liga Champions, Allegri Tak Mau Salahkan Pemain

Suporter Como pun tidak berhenti menyanyikan chant tentang Liga Champions sepanjang malam.

Nama Nico Paz dan para pemain lainnya terus diteriakkan sebagai simbol generasi baru yang membawa klub mencetak sejarah.

Musim depan, Fabregas tidak lagi hanya mendengar lagu kebesaran Liga Champions dari televisi.

Jika sebelumnya ia hanya bisa duduk di sofa untuk menikmati atmosfer kompetisi tersebut, kini ia akan mendengarnya langsung dari pinggir lapangan sebagai pelatih Como.

Sebuah mimpi yang kini benar-benar menjadi kenyataan bagi seluruh kota Como.

0 Komentar