RADARTASIK.ID – Musim buruk AC Milan akhirnya ditutup dengan kegagalan yang paling menyakitkan.
Kekalahan di kandang sendiri dari Cagliari membuat Rossoneri dipastikan gagal lolos ke Liga Champions musim depan.
Hasil tersebut menjadi pukulan telak bagi Milan yang beberapa bulan lalu sempat bermimpi bersaing dalam perebutan gelar Serie A.
Baca Juga:Dibidik Manchester United, Tonali Calon Pemain Italia dengan Transfer Termahal Sepanjang SejarahJuventus, Inter dan AC Milan Kompak Tolak David Alaba
Namun kenyataannya, tim asuhan Massimiliano Allegri justru harus mengakhiri musim di posisi keenam klasemen.
Untuk dua musim beruntun, Milan kembali absen dari kompetisi elite Eropa tersebut.
Kegagalan ini membuat banyak pihak di Italia menyebut musim Milan sebagai sebuah bencana total.
Sepanjang musim, Rossoneri dinilai terlalu sering kehilangan fokus di laga-laga penting.
Hal yang sama kembali terlihat saat menghadapi Cagliari di San Siro. Setelah sempat unggul melalui gol Alexis Saelemaekers, permainan Milan justru menurun drastis dan kehilangan organisasi.
Situasi itu mengingatkan pada sejumlah pertandingan sebelumnya ketika Milan gagal menghadapi tekanan.
Mulai dari laga melawan Lazio di Roma, duel kontra Napoli di Stadion Diego Armando Maradona, hingga pertandingan melawan Como dan Parma di San Siro.
Baca Juga:Siapa Massimo Calvelli? Orang Kuat AC Milan yang Buat CEO Giorgio Furlani PergiDaftar Pemain Terburuk dan Terbaik AC Milan: Strahinja Pavlovic Paling Bersinar
Padahal skuad Milan musim ini dihuni banyak pemain berpengalaman dan berkualitas.
Ada Mike Maignan di bawah mistar, Adrien Rabiot di lini tengah, hingga peraih Ballon d’Or Luka Modric.
Tapi keberadaan nama-nama besar tersebut ternyata belum cukup menghadirkan mentalitas dan karakter kuat untuk membawa tim mencapai target utama.
San Siro Berubah Jadi Lautan Kekecewaan
Atmosfer San Siro awalnya penuh optimisme. Suporter datang dengan harapan besar untuk melihat Milan mengamankan tiket Liga Champions.
Sayangnya semuanya berubah menjadi kekecewaan mendalam setelah Cagliari mampu bangkit dan membalikkan keadaan.
Alih-alih semakin solid setelah unggul lebih dulu, permainan Milan justru tercerai-berai.
Para pemain terlihat kehilangan ketenangan dan gagal menunjukkan reaksi yang dibutuhkan di momen krusial.
Ketika peluit panjang dibunyikan, seluruh stadion langsung dipenuhi suara siulan keras dari tifosi.
Para pendukung Milan mengantar tim masuk ke ruang ganti dengan kemarahan dan frustrasi yang sulit dilupakan.
