Sastra, kata dia, masih menjadi tempat manusia bercermin dan memahami kehidupan sosial di sekitarnya.
Sementara itu, penulis buku, M. Sukri Ruslan, menyebut menulis bukan hanya kemampuan merangkai kata, melainkan keberanian menjaga pikiran agar tetap hidup di tengah zaman yang serba cepat.
“Menulis itu bukan sekadar menuangkan kata-kata, tapi cara manusia menjaga pikirannya tetap hidup. Banyak hal yang sulit diucapkan secara langsung, tapi bisa disampaikan lewat tulisan,” tuturnya.
Baca Juga:BIJB Kertajati Jadi Sorotan, Wacana MRO Hercules Dinilai Bisa Jadi Celah Intervensi AsingSinergi BKMM-DMI Kota Tasikmalaya Diperkuat, Pengurus Cabang Diminta Terus Bergerak
Ia juga mengapresiasi LSMI Tasikmalaya yang dinilai konsisten merawat ruang literasi di lingkungan HMI.
Menurutnya, keberadaan komunitas diskusi dan ruang berkarya sangat penting agar budaya membaca dan menulis tidak benar-benar tenggelam oleh budaya instan.
Diskusi berlangsung aktif dan penuh antusiasme. Para peserta turut membahas tantangan menjaga konsistensi menulis, proses kreatif berkarya hingga krisis budaya membaca di kalangan generasi muda.
Tak hanya itu, pembacaan puisi dari kader-kader HMI turut memberi warna tersendiri.
Tema perjuangan, kemanusiaan, kerinduan hingga kritik sosial mengalir dari tiap bait yang dibacakan, menggambarkan kegelisahan anak muda hari ini yang sering kali kehilangan ruang untuk didengar.
Bagi LSMI Tasikmalaya, kegiatan semacam ini merupakan upaya menjaga denyut intelektual dan kebudayaan agar tetap hidup di tengah masyarakat.
Sebab sejarah besar, mereka percaya, tidak lahir dari keramaian seremonial belaka, tetapi dari ruang-ruang kecil tempat orang mau duduk bersama, berpikir, lalu berani menyuarakan gagasannya.
Baca Juga:Mutasi di Mapolres Tasikmalaya Kota!Guru Dikira Naik Gaji 300 Persen, Ternyata Cuma Kebagian PHP
Di Sanggar LSMI malam itu, buku bukan hanya dibaca dan dibedah. Ia menjadi jembatan yang mempertemukan manusia dengan pengalaman hidupnya sendiri—pelan, hangat, namun tetap menyala di tengah zaman yang makin bising oleh layar. (rezza rizaldi)
