Dari Pengalaman Lapangan hingga Isu Pernikahan Modern, Kepala SMPN 2 Tasikmalaya Luncurkan Karya Buku

Kepala smpn 2 Tasikmalaya, Peluncuran Buku, Menata Keadilan Gender dari Rumah
Kepala SMPN 2 Kota Tasikmalaya Hj Affi Endah Navilah SPd MPd dan karya buku terbarunya berjudul Menata Keadilan Gender dari Rumah, yang berisi kumpulan esai dan refleksi pengalaman tentang relasi keluarga, perempuan dan kehidupan sosial.
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Kepala SMPN 2 Kota Tasikmalaya Hj Affi Endah Navilah SPd MPd kembali melahirkan karya literasi. Setelah dikenal luas sebagai pejuang sekolah berbudaya lingkungan dan penggerak Adiwiyata, kini ia menerbitkan buku berjudul Menata Keadilan Gender dari Rumah.

Buku bernuansa esai dan opini tersebut lahir dari pengalaman panjang Affi berinteraksi dengan dunia perempuan, keluarga, pendidikan hingga aktivitas organisasi sosial selama bertahun-tahun.

Perempuan yang kini menjabat Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Kota Tasikmalaya sekaligus Sekretaris PGRI Kota Tasikmalaya itu mengaku, buku tersebut sejatinya sudah lama dipersiapkan. Namun baru bisa diterbitkan sekarang.

Baca Juga:Mojang Pangandaran Jadi Runner Up 2 Putri Hijabfluencer Jawa BaratButuh Rp345 Juta Perbulan Untuk Gaji Sukwan DLH Kota Tasikmalaya, Bukan Masalah Kalau PAD Optimal

“Banyak yang bilang hebat bisa setahun dua kali menerbitkan buku. Padahal bukan begitu. Buku ini justru sudah tertunda sekian tahun,” ujarnya saat diwawancarai, Rabu (20/5/2026).

Affi menjelaskan, gagasan menulis tentang gender muncul sejak dirinya aktif di organisasi perempuan, terutama pada masa pandemi Covid-19. Dari sana, ia banyak mendengar, menyerap dan merekam berbagai pengalaman perempuan dalam kehidupan sehari-hari.

“Karena sehari-hari bergaul dengan perempuan, di organisasi perempuan, banyak mendengar cerita-cerita mereka. Akhirnya saya merasa ini harus dibukukan,” katanya.

Berbeda dengan buku-buku gender yang umumnya kental teori akademik, Affi memilih pendekatan lebih ringan dan membumi. Ia menuliskannya dalam bentuk opini dan refleksi pengalaman hidup agar lebih mudah dipahami masyarakat umum.

“Kalau buku gender lain kebanyakan teori. Kalau saya tidak. Saya bercerita berdasarkan fakta, pengalaman, apa yang saya lihat, dengar, bahkan mungkin dialami,” tuturnya.

Salah satu tulisan yang cukup menarik perhatian dalam buku tersebut berjudul Tidak Apa-apa Terlambat Menikah. Dalam tulisannya, Affi menyoroti fenomena tingginya perceraian dan kesiapan mental pasangan muda saat membangun rumah tangga.

“Menikah itu bukan perlombaan. Menikah butuh kesiapan. Sekarang banyak yang gampang berpisah, akhirnya anak-anak jadi korban,” katanya.

Baca Juga:Inovasi Parkir Dishub Kota Tasikmalaya Terancam Rontok, Ada Wacana Sistem Berlangganan se-Jawa BaratTumpukan Limbah Industri di Mangkubumi Jadi Sorotan! Ketua RT Tegaskan Warga Sebatas Memanfaatkan Rongsokan

Ia menilai perubahan pola pikir generasi saat ini, ditambah derasnya pengaruh media sosial, membuat sebagian anak muda memandang hubungan rumah tangga secara instan.

0 Komentar