TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Di tengah derasnya arus transformasi digital, dua mahasiswa Universitas Mayasari Bakti (UMB) justru memilih tak sekadar jadi penonton.
Mochamad Yudayana Tohdjaja dan Nifa Hanifa resmi terpilih dalam program Google Student Ambassador (GSA) 2026—sebuah capaian yang tak hanya prestisius, tapi juga sarat tanggung jawab.
Keduanya berhasil menembus seleksi ketat, menyisihkan sekitar 80 ribu pendaftar dan masuk dalam 2.000 peserta terpilih.
Baca Juga:Bus Ngulisik Jadi Kelas Investasi, Unsil Dorong Mahasiswa Baca Aset Nyata TasikmalayaKorban Penyiraman Air Keras di Tasikmalaya Terancam Mengalami Kebutaan
Yuda, mahasiswa Bisnis Digital semester IV Fakultas Vokasi, mengaku pencapaian ini di luar ekspektasinya.
“Bangga tentu, tapi ini juga tantangan. Apalagi pesertanya sangat banyak. Ini jadi pengalaman baru untuk berjejaring dan belajar lintas kampus,” ujarnya, Rabu (6/5/2026).
Namun, gelar GSA bukan sekadar label. Yuda dan Nifa kini mengemban misi: mengedukasi mahasiswa tentang Artificial Intelligence (AI).
Bukan sekadar mengenalkan teknologi, tapi juga menanamkan cara berpikir kritis dalam memanfaatkannya.
Di tengah euforia AI yang seringkali dipuja bak ‘mesin ajaib’, Yuda justru mengingatkan pentingnya kebijaksanaan.
“AI itu bukan hanya inovasi, tapi juga tantangan. Mahasiswa harus bisa bermitra dengan teknologi, bukan malah dikendalikan olehnya,” katanya.
Senada, Nifa—mahasiswa Manajemen semester IV Fakultas Ekonomi dan Bisnis—melihat peluang besar di balik peran barunya.
Baca Juga:Warga Cibeureum Tasikmalaya Geger, Jenazah Lansia Ditemukan Duduk di Sebuah RumahEks Selokan Masih Ada: Hasil Rekontruksi BPN Tasikmalaya di Lahan Sarana Olahraga Jalan Djuanda
Ia berencana membangun ekosistem belajar AI di kampus, dimulai dari komunitas mahasiswa.
“Ke depan kami ingin membentuk komunitas AI sebagai ruang diskusi, pengembangan, bahkan riset mahasiswa. Jadi AI tidak berhenti di teori, tapi benar-benar dipraktikkan,” ungkapnya.
Langkah ini sejalan dengan visi besar Universitas Mayasari Bakti yang tengah menapaki jalur sebagai kampus berbasis AI di Priangan Timur.
Rektor UMB, Dr. Yusuf Abdullah, S.E., M.M., menegaskan bahwa kampusnya tidak ingin tertinggal dalam arus revolusi teknologi.
“Kami sudah membentuk AI Center sebagai wadah riset dan inovasi. Dosen dan mahasiswa dilibatkan aktif untuk mengembangkan teknologi berbasis AI,” tuturnya.
Tak berhenti di lingkungan akademik, UMB juga mulai merambah kolaborasi dengan pemerintah daerah dalam pengembangan teknologi berbasis AI.
