TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Ruang kelas tak lagi melulu empat dinding dan papan tulis. Civitas akademika Universitas Siliwangi (Unsil) justru “membajak” bus wisata ikonik Ngulisik menjadi ruang diskusi bergerak, Rabu (6/5/2026).
Di tengah geliat kota, 48 mahasiswa Program Studi Manajemen Kelas C Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unsil mengikuti kuliah lapangan mata kuliah Teori Investasi & Portofolio dengan cara yang tak biasa—belajar sambil berkeliling kota.
Selama kurang lebih 90 menit, bus Ngulisik yang lazimnya mengantar wisatawan ke titik sejarah, berubah fungsi menjadi laboratorium berjalan.
Baca Juga:Korban Penyiraman Air Keras di Tasikmalaya Terancam Mengalami KebutaanWarga Cibeureum Tasikmalaya Geger, Jenazah Lansia Ditemukan Duduk di Sebuah Rumah
Mahasiswa diajak membedah konsep investasi seperti real asset valuation hingga sustainable investing langsung dari objek nyata di Kota Tasikmalaya.
Alih-alih terpaku pada angka di layar, mahasiswa diajak membaca “nilai” dari situs sejarah, budaya lokal, hingga denyut ekonomi kreatif.
Perspektif ini, boleh dibilang, jadi tamparan halus bagi cara belajar konvensional yang kerap terlalu nyaman di balik grafik.
Salah satu mahasiswa, Fika, mengaku metode ini membuka cara pandangnya.
“Biasanya kami menghitung risiko di depan layar. Di sini kami belajar memahami nilai intrinsik dari sesuatu yang berwujud, seperti situs budaya. Ini membuka mata bahwa portofolio masa depan harus mempertimbangkan aspek keberlanjutan,” ujarnya.
Dosen pengampu mata kuliah, Tine Badriatin, menegaskan bahwa literasi investasi tak boleh sempit hanya pada pasar modal.
Menurutnya, aset non-finansial justru menyimpan nilai jangka panjang yang sering luput dari perhatian.
“Kami ingin mahasiswa peka bahwa investasi juga mencakup aset non-finansial. Melalui bus Ngulisik, mereka belajar melakukan asset appraisal terhadap situs sejarah,” jelasnya.
Baca Juga:Eks Selokan Masih Ada: Hasil Rekontruksi BPN Tasikmalaya di Lahan Sarana Olahraga Jalan DjuandaCFD ASN Tasikmalaya: Hemat Energi, ASN Diskominfo Berangkat Naik Kuda
Ia menambahkan, pelestarian budaya bisa menjadi strategi lindung nilai di tengah arus modernisasi.
Konsep ini sejalan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam investasi yang kini makin relevan.
Ketua Jurusan Manajemen FEB Unsil, R. Lucky Radi Rinandiyana, turut mengapresiasi pendekatan tersebut.
Ia menilai, integrasi teori dengan realitas lapangan menjadi bekal penting bagi mahasiswa.
“Diversifikasi portofolio ekonomi daerah sangat bergantung pada kekuatan ekonomi kreatif dan kearifan lokal. Ini cara kami menyiapkan manajer masa depan yang tak hanya piawai secara teknis, tapi juga adaptif,” tegasnya.
