RADARTASIK.ID – Polemik naturalisasi pemain keturunan Indonesia, Dean James, sempat mengguncang kompetisi Eredivisie.
Namun, drama panjang tersebut akhirnya menemui titik terang setelah pengadilan menolak gugatan yang diajukan oleh NAC Breda.
Kasus ini bermula dari kekalahan telak NAC Breda 0-6 dari Go Ahead Eagles pada Maret 2026.
Baca Juga:Manchester City Ditahan Imbang Everton, Arsenal Semakin Dekat Sabet Gelar Juara Liga PremierPaolo Berlusconi: Silvio Berlusconi di Surga Terkadang Memalingkan Muka Melihat AC Milan Saat Ini
Tidak terima dengan hasil tersebut, NAC mengajukan protes resmi dengan alasan lawan mereka menurunkan pemain yang dianggap tidak memenuhi syarat tampil, yakni Dean James.
NAC Breda berargumen bahwa James telah kehilangan kewarganegaraan Belandanya setelah memilih membela Timnas Indonesia.
Dengan status tersebut, mereka menilai sang pemain seharusnya berstatus non-Uni Eropa dan wajib memiliki izin kerja khusus untuk bermain di Belanda.
Jika tidak, maka keikutsertaannya dianggap melanggar regulasi kompetisi.
Polemik ini langsung menjadi sorotan luas dan dijuluki sebagai “Paspoortgate”, karena berpotensi membuka celah masalah administrasi yang lebih besar di sepak bola Belanda.
Sebagaimana diketahui, Dean James memang resmi beralih kewarganegaraan pada awal 2025 dan memilih membela Indonesia serta menjalani proses naturalisasi yang cukup cepat.
Pada 8 Maret 2025, DPR RI menyetujui perpindahan statusnya, sebelum ia mengucap sumpah setia di KBRI Roma dua hari kemudian.
Tak butuh waktu lama, James langsung menjalani debut bersama Timnas Indonesia pada 20 Maret 2025 dalam laga Kualifikasi Piala Dunia 2026 melawan Australia.
Baca Juga:Intip Peluang AC Milan, Juventus, AS Roma dan Como ke Liga Champions: Lazio Batu Sandungan GiallorossiInter Milan Makin Italia: Bidik Kiper Lokal yang Sedang Merantau ke Inggris
Sejak saat itu, status kewarganegaraannya menjadi bahan diskusi, terutama terkait implikasinya di level klub Eropa.
Situasi memanas ketika NAC Breda membawa kasus ini ke jalur hukum. Mereka meminta pertandingan diulang dengan dalih adanya pelanggaran administratif.
Namun, keputusan tegas akhirnya dikeluarkan oleh Pengadilan Utrecht yang menolak seluruh gugatan tersebut.
Menurut laporan Calcio e Finanza yang mengutip The Athletic, pengadilan menilai bahwa kepentingan kompetisi secara keseluruhan jauh lebih penting dibandingkan tuntutan satu klub.
KNVB sebelumnya juga telah memperingatkan bahwa jika gugatan NAC dikabulkan, dampaknya bisa sangat luas.
Setidaknya ada 11 pemain lain di Eredivisie yang memiliki kasus kewarganegaraan serupa.
Hal ini berpotensi memengaruhi hingga 133 pertandingan sepanjang musim—sebuah skenario yang bisa merusak integritas kompetisi.
