Setelah melalui pembicaraan, keduanya akhirnya mencapai kesepakatan.
Carson menjelaskan bahwa ia menyerahkan US$20 ribu dalam bentuk Bitcoin, ditambah sebuah domain lain yang menghasilkan sekitar US$9 ribu per tahun dari pendapatan iklan, untuk mendapatkan Friendster.com.
Langkah itu membuka lembaran baru bagi platform yang pernah mencatat lebih dari 115 juta pengguna terdaftar pada masa keemasannya.
Saat popularitasnya menurun akibat persaingan dengan MySpace dan Facebook di Amerika Serikat, Friendster justru sempat bertahan berkat basis pengguna yang kuat di kawasan Asia-Pasifik.
Baca Juga:Jalan Persib Menuju 5 Final Perburuan Juara: Terjal Tapi Masih Sangat Besar TercapaiLangkah Indonesia Terhenti di Fase Grup, Catatan Kelam di Panggung Thomas Cup 2026
Pada 2009, Friendster diakuisisi perusahaan pembayaran asal Malaysia, MOL Global, dengan nilai sekitar US$26,4 juta sebagai bagian dari fokus ekspansi ke pasar Asia-Pasifik.
Namun, seiring perubahan lanskap media sosial, nama Friendster perlahan meredup.
Kini, Carson membawa visi berbeda. Ia menilai ekosistem media sosial modern semakin sering melahirkan polarisasi, tekanan sosial, dan interaksi negatif.
Sebaliknya, ia mengenang Friendster sebagai ruang digital yang dulu terasa hangat, menyenangkan, dan membangun koneksi positif antar pengguna.
Berangkat dari kenangan itu, Carson ingin menghidupkan kembali Friendster sebagai platform yang menawarkan pengalaman media sosial yang lebih sehat, berguna, dan menyenangkan bagi generasi pengguna saat ini.
Baginya, Friendster bukan sekadar nostalgia, melainkan peluang untuk menghadirkan kembali ruang digital yang lebih positif di tengah hiruk-pikuk media sosial masa kini.
“Saya ingin menciptakan sesuatu yang positif, sesuatu yang akan dinikmati dan dianggap berguna oleh orang-orang,” ujar Carson.
