Dari jumlah itu, 31 proposal lolos untuk direalisasikan, mulai dari workshop hingga festival.
Angka itu memberi pesan sederhana: minat ada, ruangnya yang perlu diperluas.
Dialog ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar forum. Ia menjelma cermin—bahwa di tengah modernisasi, “nyunda” bukan barang antik yang dipajang, melainkan kompas yang seharusnya dipakai.
Baca Juga:33 Prajurit Kodim 0612 Tasikmalaya Butuh Tindak Lanjut Medis: Hasil Cek KesehatanSekolah Rakyat di Kota Tasikmalaya Tersandera Lahan, Pemkot Tunggu Dokumen Final
Dan mungkin, yang perlu diperbaiki bukan budaya Sundanya—melainkan cara kita memperlakukannya. (ayu sabrina barokah)
