Jelang Muscab PPP Kota Tasikmalaya: Dugaan Praktek “Politik Formatur” Mengemuka!

polemik muscab PPP Kota Tasikmalaya
Ilustrasi dugaan praktek “politik formatur”. olah digital / chatGPT
0 Komentar

“Kalau ukurannya kegagalan kinerja, kenapa tidak sekalian ketuanya? Ini jadi pertanyaan besar. Logikanya seperti lompat-lompat,” sindirnya.

Istilah “lompat-lompat” itu mungkin terdengar ringan. Tapi bagi kader partai yang terbiasa membaca arah kebijakan organisasi, kata itu bisa berarti satu hal: inkonsistensi.

Bagi Sonny, PPP bukan sekadar partai. Ia menyebut telah menghabiskan hampir separuh hidupnya di organisasi berlambang Ka’bah itu.

Baca Juga:CFD ASN Kota Tasikmalaya Diuji, Efisiensi BBM Tersandung Realita JarakGaleri Investasi Syariah di Politeknik LP3I Tasikmalaya Dibuka, OJK Ingatkan Jebakan Investasi Bodong

Dari level ranting. Naik menjadi pengurus. Lalu dua periode menjabat Ketua PAC. Karena itu, label “gagal” yang disematkan kepadanya terasa bukan sekadar kritik. Ia menganggapnya sebagai penghakiman yang perlu diluruskan.

Ia bahkan mengungkap satu informasi yang membuat banyak kader mengernyit.

Namanya, kata dia, sempat dikabarkan “meninggal dunia” dalam komunikasi internal yang sampai ke tingkat DPW PPP Jawa Barat.

Ia tersenyum kecil saat menceritakan itu. Tapi senyum yang tidak sepenuhnya ringan.

“Ini bukan soal jabatan. Ini soal nama baik dan pengabdian panjang yang seolah dipangkas oleh kepentingan sesaat,” tegasnya.

Meski menyampaikan kritik keras, Sonny tetap menyatakan menghormati keputusan DPW yang telah menerbitkan SK perubahan kepengurusan.

Ia tidak memilih jalan konfrontasi terbuka. Setidaknya untuk saat ini. Namun ia memastikan akan menempuh jalur konstitusional. Tujuannya bukan merebut kembali jabatan, melainkan memulihkan reputasi yang menurutnya tercoreng.

“Dalam politik, ambisi itu wajar. Tapi kalau cara-cara yang ditempuh menghalalkan segala cara, alam biasanya punya cara sendiri untuk menyeimbangkan,” pungkasnya.

Baca Juga:Besok Uji Coba CFD ASN di Kota Tasikmalaya, Kendaraan BBM Dilarang Masuk Kantor PemerintahGen Z Tasikmalaya Harus Melek Komix Herbal Sejak Bangku Sekolah

Kini, jarum jam terus bergerak menuju 18 April 2026. Hari pelaksanaan Muscab semakin dekat. Di satu sisi, forum itu seharusnya menjadi ruang konsolidasi—tempat semua energi disatukan kembali demi target politik ke depan.

Namun di sisi lain, riak-riak yang muncul justru menunjukkan bahwa luka lama belum sepenuhnya sembuh. Pertanyaannya kini sederhana, tapi berat dijawab: Apakah Muscab VI PPP Kota Tasikmalaya akan menjadi panggung rekonsiliasi?

Atau justru menjadi babak baru dari drama yang sejak awal be qlum benar-benar menemukan titik akhir. (rezza rizaldi)

0 Komentar