Wasit memutuskan tidak ada pelanggaran, keputusan yang juga didukung VAR.
Tak lama berselang, Barcelona kembali menuntut penalti setelah dugaan pelanggaran Marcos Llorente dan Koke terhadap Dani Olmo. Namun, wasit tetap bergeming dan melanjutkan pertandingan.
Di babak kedua, gol Ferran Torres yang sempat membuat skor berubah kembali dianulir karena offside, berdasarkan tinjauan VAR.
Keputusan ini dinilai objektif, meski tetap menambah panjang daftar kekecewaan kubu Barcelona.
Baca Juga:Media Italia: Inter Bidik Pemain Buangan Dortmund dan ArsenalJurnalis Italia: Inter Memenangkan Scudetto Meski Tak Punya Penjaga Gawang
Ketegangan tak berhenti di lapangan. Setelah leg pertama, Barcelona bahkan mengajukan protes resmi kepada UEFA.
Klub Catalan itu menilai sejumlah keputusan wasit telah merugikan mereka secara signifikan dan memengaruhi hasil pertandingan.
Dalam pernyataan resminya, Barcelona meminta penyelidikan menyeluruh, termasuk akses terhadap komunikasi wasit selama pertandingan.
Mereka juga menyoroti dugaan handball di leg pertama yang tidak berujung penalti sebagai salah satu kesalahan besar.
Klub tersebut menegaskan bahwa ini bukan pertama kalinya mereka merasa dirugikan oleh keputusan wasit di Liga Champions dalam beberapa musim terakhir.
Barcelona menilai adanya ketidakseimbangan yang membuat mereka kesulitan bersaing secara adil dengan klub-klub lain di kompetisi elite Eropa tersebut.
Kegagalan ini menjadi pukulan telak bagi Barcelona yang sebenarnya tampil menjanjikan, terutama di babak pertama leg kedua.
Baca Juga:Drogba Tak Mau Terjun ke Politik Meski Sukses Hentikan Perang Saudara di Pantai GadingDe Rossi Masuk dalam Daftar 3 Pelatih Calon Pengganti Gasperini di AS Roma
Namun, inkonsistensi performa, keputusan kontroversial, serta faktor kelelahan pemain muda seperti Yamal menjadi kombinasi yang akhirnya menghentikan langkah mereka di panggung Eropa musim ini.
