RADARTASIK.ID – Sosok Didier Drogba dikenal sebagai striker garang di lapangan, namun di luar sepak bola ia justru menjelma menjadi simbol perdamaian bagi Pantai Gading.
Meski memiliki pengaruh besar hingga mampu meredakan konflik nasional, Drogba menegaskan bahwa terjun ke dunia politik bukanlah jalan yang ingin ia pilih.
Momen paling ikonik terjadi pada 8 Oktober 2005, saat Pantai Gading memastikan lolos ke Piala Dunia FIFA 2006 untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Usai kemenangan tersebut, Drogba menyampaikan pidato emosional yang menggetarkan bangsa.
Ia tidak berbicara soal sepak bola, melainkan tentang persatuan.
Baca Juga:Rahasia Inter Kokoh di Puncak Serie A: Tinggalkan Catenaccio yang Masih Dianut AC Milan dan NapoliComolli Siap Jor-joran di Bursa Transfer Meski Juventus Tak Lolos ke Liga Champions
Bahkan, ia berlutut di hadapan kamera bersama rekan-rekannya, memohon kepada rakyat agar menghentikan perang saudara yang telah berlangsung selama tiga tahun.
“Kami memohon dengan berlutut, saling memaafkanlah. Letakkan senjata kalian,” serunya saat itu.
Seruan tersebut bukan sekadar simbolik. Dalam waktu singkat, pihak-pihak yang bertikai sepakat melakukan gencatan senjata, membuka jalan menuju proses perdamaian.
Peran Drogba kala itu dianggap sebagai salah satu titik balik penting dalam meredakan konflik antara wilayah utara dan selatan yang terpecah oleh perbedaan politik dan agama.
Pada tahun-tahun berikutnya, pengaruh Drogba terus terasa.
Setelah tampil di Piala Dunia 2006, ia juga membawa negaranya hingga final Piala Afrika, sekaligus meraih penghargaan pemain terbaik Afrika dan kontribusinya tak berhenti di lapangan.
Ia aktif menjembatani komunikasi antara pemerintah dan kelompok pemberontak dan menggelar pertandingan internasional di Bouaké—wilayah yang sebelumnya dikuasai pemberontak—dan menjadi simbol rekonsiliasi nasional.
Tak lama setelah itu, pemerintah dan pihak oposisi kembali menyepakati gencatan senjata yang lebih kuat.
Baca Juga:Media Italia: Tak Harmonis, Allegri dan AC Milan Siap CeraiJurnalis Italia: Inter Bantu AC Milan dan Juventus Segel Tiket ke Liga Champions Musim Depan
Presiden saat itu, Laurent Gbagbo, hingga tokoh pemberontak Guillaume Soro, sama-sama mengakui peran besar Drogba dalam mendorong perdamaian.
Bahkan, ia sempat dipercaya memimpin Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi setelah krisis politik kembali memanas pada 2010.
Di tengah pengaruh sebesar itu, banyak pihak mendorong Drogba untuk terjun ke dunia politik. Namun, mantan bintang Chelsea FC ini memilih jalan berbeda.
Menurutnya, kekuatan terbesarnya justru terletak pada posisinya yang netral.
