RADARTASIK.ID – Jurnalis Italia Simone Eterno menilai Inter Milan berada di jalur yang tepat untuk meraih Scudetto musim ini.
Dalam pandangannya, keberhasilan Nerazzurri tak lepas dari keberanian meninggalkan pendekatan lama khas sepak bola Italia, yakni catenaccio, yang menurutnya masih membelenggu rival seperti AC Milan dan Napoli.
Dalam kolom editorialnya di Calciomercato, Eterno menegaskan bahwa sepak bola Italia tengah berada di titik perubahan besar.
Baca Juga:Media Italia: Tak Harmonis, Allegri dan AC Milan Siap CeraiJurnalis Italia: Inter Bantu AC Milan dan Juventus Segel Tiket ke Liga Champions Musim Depan
Ia menyebut era ketika bertahan rapat dan menunggu kesalahan lawan sebagai pendekatan utama kini sudah usang.
Filosofi yang dulu menjadi identitas Serie A, kini justru berubah menjadi nostalgia yang menyesatkan.
“Dulu, menutup ruang dan membaca permainan sudah cukup untuk menang. Tapi sekarang tidak lagi,” tulis Eterno.
Ia menekankan bahwa sepak bola modern menuntut produktivitas ofensif, bukan sekadar kontrol permainan atau ketahanan lini belakang.
Menurutnya, Inter menjadi contoh paling nyata dari perubahan ini. Tim yang kini memimpin perburuan gelar justru mengandalkan agresivitas serangan, intensitas tinggi, dan keberanian mengambil risiko.
Filosofi tersebut berbanding terbalik dengan pendekatan yang masih dipertahankan Milan dan Napoli.
Data menjadi dasar utama argumen Eterno. Ia menyoroti minimnya produktivitas gol dari Milan dan Napoli sepanjang musim.
Baca Juga:Kritik Ranieri ke Gasperini Bukti Nyata Ada Bom di Ruang Ganti AS RomaPellegrini Wajib Potong Gaji Jika Ingin Bertahan di AS Roma, Darmian Korban Pertama Revolusi Inter Milan
Dalam 32 pertandingan, kedua tim hanya mencetak kurang dari 50 gol—angka yang dianggap jauh tertinggal jika dibandingkan dengan klub-klub top Eropa lainnya.
Sebagai pembanding, ia menyinggung dominasi Bayern Munich di Bundesliga yang mampu mencetak lebih dari 100 gol bahkan sebelum musim berakhir.
Tak hanya itu, tim seperti Borussia Dortmund dan Stuttgart pun memiliki produktivitas yang jauh lebih tinggi dibanding peringkat atas Serie A.
Fenomena serupa juga terlihat di liga lain. Di Spanyol, Real Madrid tampil tajam, sementara di Inggris, klub seperti Manchester City dan Manchester United terus menunjukkan konsistensi dalam mencetak gol.
Perbedaan ini, menurut Eterno, bukan sekadar angka—melainkan cerminan dari jurang filosofi permainan.
Ia menilai sepak bola Eropa kini telah berevolusi ke arah yang lebih cepat, vertikal, dan ofensif.
