Tim yang tidak mengikuti arus ini akan tertinggal, bukan karena berbeda, tetapi karena tidak lagi efektif.
Lebih jauh, Eterno juga mengkritik narasi lama bahwa pertahanan adalah kunci utama kesuksesan.
Ia menilai gagasan tersebut sudah tidak relevan, terlebih ketika tim seperti Milan dan Napoli bahkan tidak menunjukkan keunggulan signifikan di sektor pertahanan.
Baca Juga:Media Italia: Tak Harmonis, Allegri dan AC Milan Siap CeraiJurnalis Italia: Inter Bantu AC Milan dan Juventus Segel Tiket ke Liga Champions Musim Depan
Ironisnya, dalam beberapa aspek, klub seperti Como justru mampu menunjukkan organisasi pertahanan yang lebih solid.
Hal ini semakin mempertegas bahwa identitas lama sepak bola Italia tidak lagi menjadi jaminan keberhasilan.
Eterno juga menyinggung kondisi kompetitif Serie A dalam beberapa tahun terakhir.
Setelah dominasi panjang Juventus berakhir, gelar juara memang berganti-ganti.
Namun, ia menilai hal itu bukan tanda meningkatnya kualitas, melainkan indikasi fragmentasi dan menurunnya standar secara keseluruhan.
Dampaknya terlihat jelas di kompetisi Eropa, di mana klub-klub Italia kesulitan bersaing.
Bahkan di level tim nasional, pendekatan yang terlalu berhati-hati dinilai menjadi hambatan dalam menghadapi perkembangan sepak bola modern.
Meski begitu, Eterno tidak sepenuhnya menolak pentingnya pertahanan dan menegaskan bahwa keseimbangan tetap dibutuhkan.
Baca Juga:Kritik Ranieri ke Gasperini Bukti Nyata Ada Bom di Ruang Ganti AS RomaPellegrini Wajib Potong Gaji Jika Ingin Bertahan di AS Roma, Darmian Korban Pertama Revolusi Inter Milan
Namun, sepak bola saat ini menuntut lebih dari sekadar bertahan—tim harus mampu menciptakan dan memaksimalkan peluang.
Pada akhirnya, ia menyimpulkan bahwa musim ini menjadi bukti nyata perubahan tersebut.
Inter, dengan pendekatan progresifnya, berada di jalur juara. Sementara Milan dan Napoli, yang masih terjebak dalam bayang-bayang masa lalu, berisiko kembali tertinggal.
“Sepak bola tidak menunggu siapa pun. Hari ini, bahasanya sederhana: siapa yang mencetak gol lebih banyak, dialah yang menang,” pungkasnya.
Jika tren ini berlanjut, maka Scudetto bukan hanya soal konsistensi, tetapi juga keberanian untuk beradaptasi—sesuatu yang sejauh ini berhasil dilakukan Inter, namun belum sepenuhnya oleh para pesaingnya.
