Tidak semua kepala daerah berani mengambil keputusan seperti itu. Sebab meminjam berarti membuka ruang kritik.
“Kenapa harus utang?”
“Bagaimana kalau gagal bayar?”
“Siapa yang menanggung?”
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah benar-benar hilang. Namun Cecep tampaknya memilih satu hal: bergerak.
Ia tahu jalan rusak terlalu lama menjadi cerita lama Tasikmalaya. Ia tahu keluhan masyarakat tidak bisa terus dijawab dengan tambal sulam. Dan ia tahu, jika menunggu fiskal daerah benar-benar lapang, mungkin 64,51 kilometer itu hanya akan menjadi angka dalam proposal.
Baca Juga:Dua PAC PPP “Meninggal” Sebelum Waktunya!Tambang PAD di Kota Tasikmalaya Bernama Event!
Maka ia memilih jalan lain, meminjam untuk mempercepat. Tentu saja, ini bukan tanpa risiko. Justru sangat berisiko. Risiko itu mungkin tidak terlihat oleh publik. Bahkan mungkin tidak ingin diketahui publik. Tapi seorang bupati pasti merasakannya. Ia yang menandatangani. Ia yang bertanggung jawab.
Keberanian sejati bukan ketika tidak ada risiko. Keberanian justru ketika risiko itu jelas terlihat—namun tetap diambil.Kini bola ada di lapangan pelaksanaan. Aspal harus benar-benar terhampar.
Kualitas harus terjaga. Manfaat harus terasa. Karena utang untuk jalan hanya akan dianggap benar jika jalannya memang membawa kesejahteraan.
Jika 64,51 kilometer itu benar-benar menghubungkan desa ke pasar, sawah ke kota, harapan ke kenyataan—maka sejarah akan mencatat ini sebagai langkah berani.
Namun jika tidak, angka presisi itu akan menjadi pengingat bahwa keberanian tanpa hasil hanya tinggal angka di atas kertas. Dan untuk saat ini, Cecep Nurul Yakin telah memilih jalannya. Dengan segala risikonya. (red)
