RADARTASIK.ID— Malam di Jakarta International Stadium pada 15 Maret itu menyisakan gema yang tak sepenuhnya reda.
Sorak sorai yang sempat membuncah perlahan berubah menjadi napas panjang—campuran antara lega, kecewa, dan penyesalan.
Hasil imbang 1-1 saat Persija Jakarta menjamu Dewa United Banten FC terasa lebih dari sekadar angka di papan skor; ia menjadi cermin tentang bagaimana satu pertandingan bisa memuat begitu banyak emosi dalam rentang waktu yang singkat.
Baca Juga:Bek Persib Bersiap Tampil di Playoff Kualifikasi Piala Dunia 2026, Jadi Idola Bobotoh di Skuad Bojan HodakMomen Lebaran bagi Pemain Senior Persib Bandung Dedi Kusnandar, Berkumpul dengan Keluarga
Di ruang ganti, tak ada satu pun individu yang benar-benar merasa lepas dari tanggung jawab.
Hasil tersebut dipahami sebagai beban kolektif—buah dari kerja tim yang belum mencapai puncaknya malam itu.
Rasa kecewa menyusup ke setiap sudut, mengendap di benak pemain, pelatih, hingga mereka yang menyaksikan dari tribun.
Bagi penyerang Emaxwell Souza, laga itu menjelma menjadi kisah yang nyaris sempurna—sebelum akhirnya retak di ujung.
Ia sempat menyalakan harapan publik tuan rumah lewat gol pada menit 45+4, sebuah momentum yang membuat stadion bergemuruh.
Pada detik itu, keunggulan 1-0 terasa seperti pijakan menuju kemenangan yang sudah di depan mata.
Namun sepak bola, seperti hidup, kerap menyimpan ironi.
Di penghujung babak kedua, kesempatan emas hadir dari titik putih. Situasi yang kerap menjadi panggung bagi kepastian, justru berubah menjadi titik balik.
Baca Juga:Persib Kokoh Lebaran di Puncak, Adam Alis Ingatkan Rekan-Rekannya Tidak LengahPersib Terima Surat Agar Bek Tangguh Ini Dilepas, Timnya Bersiap Main di Playoff Piala Dunia 2026
Eksekusi yang gagal membuat peluang kemenangan 2-1 sirna, meninggalkan ruang hening yang sulit dijelaskan.
Dalam refleksinya, Maxwell memandang pertandingan itu sebagai potret kontras antara kegembiraan dan kesedihan yang hadir bersamaan.
Ia menilai kegagalan tersebut seharusnya menjadi pelajaran penting untuk perjalanan panjang yang masih terbentang di depan.
“Sepak bola terkadang bisa menghadirkan kegembiraan dan kesedihan dalam pertandingan yang sama, itu terjadi padauk,” ujarnya.
“Kesalahan seharusnya menjadi pelajaran untuk perjalanan panjang di depan. Pikiranku kuat dan tetap terlindungi. Aku akan bangkit dan kembali lebih kuat. Mimpi tetap hidup, harapan belum mati,” ujar Maxwell.
Maxwell juga menegaskan bahwa secara mental dirinya tetap kuat dan bertekad untuk bangkit, menjaga mimpi serta harapan tetap hidup.
