Mahasiswa Unsil Tasikmalaya Prank Orang Tuanya, Ini Pandangan Psikolog

Atra Adhi, Mahasiswa Unsil Tasikmalaya Prank Orang Tuanya
Mahasiswa Unsil Atra Adhi akan pindah ke kampus lain dan sudah mencabut berkas oleh orang tuanya. (Foto/Rizqi)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Soal Mahasiswa Unsil Tasikmalaya Prank Orang Tuanya, ini pandangan dari psikolog.

Beberapa kali kejadian mahasiswa prank orang tuanya soal wisuda di Unsil Tasikmalaya harus menjadi perhatian.

Terbaru mahasiswa Teknik Sipil Fakultas Teknik Unsil Atra Adhi M mengaku diwisuda kepada orangtuanya, ternyata terancam drop out (DO).

Baca Juga:Atra Adhi Cabut Berkas Kepindahan dari Unsil, Begini Kata Orang TuanyaLLDIKTI Jabar dan Banten, Sarankan Mahasiswa Unsil yang Prank Orang Tuanya Pindah Kampus

Fenomena itu menjadi perhatian Psikolog Tasikmalaya H Endra Nawawi M Psi.

Kata Endra, permasalahan mahasiswa memang beraneka ragam, dalam analisa psikologis. Sehingga perlu menganalisa per kasus.

Misalnya, lanjut ia, fenomena kebanyakan mahasiswa memiliki permasalahan kompleks dalam menempuh perkuliahan, baik itu tidak ikut kuliah (mangkir), bahkan hingga DO.

“Biasanya karena merasa tidak nyaman, tidak cocok, tidak sesuai dengan keinginan, atau pemaksaan dari orang tua,” katanya kepada radartasik.id, Kamis 8 Juni 2023.

Oleh karenanya, sebelum terlambat orang tua harus memastikan kondisi anaknya dalam memilih kampus dan mengambil jurusan kuliah sesuai keinginannya.

“Lalu setelah masuk, orang tua juga mesti rutin mengkontrol kondisi psikologisnya anak, apakah memiliki hambatan-hambatan seperti perkuliahan atau permasalahan pribadi,” ujarnya.

Selain orang tua, ada pihak kampus, yang melakukan pembimbingan akademik agar berjalan dengan efektif.

Baca Juga:PPDB Jalur Zonasi Rawan Ubah Data Diri, Ini Menurut SMAN 2 Singaparna Kabupaten TasikmalayaPenanganan Longsor Selesai, KA Serayu Jakarta-Purwokerto via Stasiun Tasikmalaya Bisa Lewat

Itu dikerjasamakan bagian bidang kemahasiswaan, pembimbing akademik, dosen wali agar terus melakukan pemantauan yang bersifat berkelanjutan.

“Supaya mahasiswa terpantau kalau ada hal-hal yang menjadi hambatan dari perkuliahan bisa dicari solusinya. Baik pendekatan secara akademik atau emosional dengan mendengarkan persoalan pribadi barangkali terlibat hal-hal negatif seperti; hutang di pinjaman online, perjudian online, dan kasus mahasiswa lainnya,” katanya.

Sehingga ketika ada permasalahan yang dihadapi oleh mahasiswa, sehingga mengetahui akar permasalahannya. Artinya, mahasiswa tidak mungkin tiba-tiba kehilangan kontak begitu saja.

“Ketika terjadi mahasiswa hilang kontak, jadi kita tahu apa yang menjadi akar permasalahannya. Mungkin dari situ mulai menyelesaikan permasalahan, kalau permasalahan akademik cari bimbingan yang tepat agar bisa selesaikan perkuliahan,” ujarnya.

0 Komentar