Rumahnya Telah Lapuk dan Berusia 23 Tahun, Warga Pangandaran ini Akhirnya Bisa Bernapas Lega

Dua Dekade Hidup dalam Cemas
Satgas TMMD ke-130 Kodim 0625 Pangandaran saat membangun rumah Maspuah. istimewa
0 Komentar

PANGANDARAN, RADARTASIK.ID – Dua puluh tiga tahun bukan waktu sebentar untuk bertahan di rumah yang kian lapuk.

Bagi Maspuah, seorang janda warga Dusun Limusnunggal, Desa Bangunjaya, Kecamatan Langkaplancar, hujan bukan sekadar persoalan cuaca.

Ada kecemasan rumahnya roboh setiap kali angin kencang menerjang. Kini, kekhawatiran itu perlahan terjawab.

Baca Juga:FKS Kota Tasikmalaya Terus Perkuat Gerakan Pengelolaan Sampah Rumah TanggaHonda DAM Beri Diskon Servis 30 Persen untuk Pelajar dan Mahasiswa di Jawa Barat

Rumah panggung berdinding bilik bambu yang selama ini menjadi tempat tinggalnya mulai dibongkar dan dibangun ulang menjadi hunian permanen sederhana melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-130.

Selama lebih dari dua dekade, Maspuah harus menjalani hari-hari di rumah dengan kondisi memprihatinkan.

Dinding bambu, rangka kayu seadanya, hingga atap yang tak lagi mampu menahan air hujan menjadi bagian dari kesehariannya.

Bahkan, kerusakan bangunan sempat membuatnya diliputi ketakutan. Terlebih ketika hujan deras, angin kencang, hingga gempa bumi datang.

Ancaman bukan lagi sekadar kemungkinan, tetapi sesuatu yang sewaktu-waktu bisa terjadi di atas kepalanya.

“Kalau hujan takut kehujanan, takut ada gempa dan angin kencang. Dulu sempat ada kayu yang roboh, saya hanya bisa pasrah,” ungkap Maspuah, Kamis (5/11/2026).

Rumah tersebut awalnya dibangun secara gotong royong oleh masyarakat setempat setelah suaminya meninggal dunia.

Baca Juga:Penanganan Genangan di Kota Tasikmalaya Terkendala Kewenangan, Sungai Ciloa dan Cikalang Perlu KolaborasiGenangan di Kota Tasikmalaya Bukan Sekadar karena Hujan, Sampah dan Kabel Utilitas Hambat Saluran

Kepedulian warga saat itu menjadi satu-satunya jalan agar Maspuah tetap memiliki tempat berteduh.

“Dulu punya rumah juga dibikinkan masyarakat di sini. Setelah ditinggal suami, langsung dibikinkan rumah panggung dari kayu dan bilik bambu,” jelasnya.

Seiring waktu, kondisi bangunan semakin memburuk. Beberapa kali perbaikan dilakukan bersama anak-anaknya. Namun, tambal sulam tak cukup untuk menyelamatkan rumah yang struktur kayunya mulai rapuh.

Di tengah keterbatasan, Maspuah tetap menjalani kehidupannya dengan mengurus keluarga. Ia juga memiliki lima cucu yang kini masing-masing telah berkeluarga.

Selama 23 tahun, rumah itu menjadi saksi perjuangannya bertahan dalam keterbatasan. Kini, melalui program TMMD, Maspuah akhirnya mendapatkan kesempatan menempati hunian yang lebih layak dan aman.

Rumah berukuran 5 x 6 meter tersebut dibangun menjadi bangunan permanen sederhana. Proses pengerjaan melibatkan personel TNI, Polri, masyarakat setempat, serta sejumlah pihak terkait.

0 Komentar