Material bata hebel mulai digunakan untuk dinding bangunan. Sementara itu, pengecoran dilakukan pada bagian sudut dan kerangka utama rumah. Balok-balok kayu juga disiapkan untuk menopang struktur atap.
Pembangunan yang telah berlangsung hampir dua pekan itu menjadi harapan baru bagi Maspuah.
Rumah yang sebelumnya menyimpan kecemasan kini mulai berubah menjadi tempat tinggal yang lebih menjanjikan rasa aman.
Baca Juga:FKS Kota Tasikmalaya Terus Perkuat Gerakan Pengelolaan Sampah Rumah TanggaHonda DAM Beri Diskon Servis 30 Persen untuk Pelajar dan Mahasiswa di Jawa Barat
“Alhamdulillah, senang sekali. Sekarang rumah saya dibangun permanen. Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada pemerintah dan TNI yang sudah membantu membangun rumah saya,” tuturnya.
Bagi Maspuah, pembangunan rumah tersebut bukan sekadar pergantian dinding bambu menjadi bata.
Lebih dari itu, setelah puluhan tahun hidup dibayangi kekhawatiran, ia akhirnya memiliki harapan untuk tinggal dengan lebih tenang.
Di tengah berbagai program pembangunan, kisah Maspuah menjadi pengingat bahwa ukuran keberhasilan pembangunan tak selalu harus dihitung dari megahnya proyek.
Terkadang, rumah sederhana yang aman justru menjadi kemewahan paling berarti bagi warga yang selama ini hidup dalam keterbatasan. (deni nurdiansah)
