Langkah awal yang perlu dibangun adalah kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah. Sampah organik dan anorganik harus dipisahkan agar lebih mudah dikelola dan tidak seluruhnya berakhir sebagai timbunan sampah.
Selain itu, masyarakat perlu didorong mengurangi produksi sampah, menyediakan sarana pendukung di lingkungan rumah, serta menghubungkan pengelolaan sampah dengan layanan persampahan yang tersedia.
“Pertama, ada perilaku memilah sampah dari rumah tangga, misalnya sampah organik dan anorganik. Sampah plastik harus dipisahkan. Kemudian ada pengurangan sampah, sarana dan prasarana, serta keterhubungan rumah tangga dengan layanan persampahan,” jelasnya.
Baca Juga:Honda DAM Beri Diskon Servis 30 Persen untuk Pelajar dan Mahasiswa di Jawa BaratPenanganan Genangan di Kota Tasikmalaya Terkendala Kewenangan, Sungai Ciloa dan Cikalang Perlu Kolaborasi
Nina juga mengingatkan pentingnya pengelolaan limbah cair rumah tangga. Air bekas mencuci pakaian maupun peralatan dapur harus dialirkan dengan baik sehingga tidak menimbulkan genangan di sekitar rumah.
Genangan air yang dibiarkan berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya vektor penyakit, termasuk nyamuk. Dengan demikian, kebersihan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan sampah padat, tetapi juga pengelolaan limbah rumah tangga.
Di sisi lain, masyarakat juga perlu lebih selektif dalam menggunakan layanan air minum isi ulang. Nina mengingatkan warga agar tidak asal memilih depot air minum tanpa memastikan standar kesehatan dan kelayakan pengelolaannya.
“Jangan asal membeli air minum di depot. Kita harus tahu bagaimana sertifikatnya dan bagaimana penanganannya. Konsumen perlu memperhatikan hal tersebut,” pesannya.
Dalam pelatihan tersebut, Penyuluh Lingkungan Hidup Ahli Muda Dinas Lingkungan Hidup Kota Tasikmalaya, Dewi Nusarini SP MLing, turut memberikan contoh pengolahan sampah yang bisa dilakukan langsung dari rumah.
Ia memperkenalkan sejumlah metode sederhana, mulai dari pembuatan eco enzyme hingga penggunaan komposter ember tumpuk.
Menurut Dewi, kebiasaan mengurangi sampah harus dimulai dari sumbernya. Salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah penggunaan kemasan sekali pakai dalam aktivitas sehari-hari.
Baca Juga:Genangan di Kota Tasikmalaya Bukan Sekadar karena Hujan, Sampah dan Kabel Utilitas Hambat SaluranSebelas Titik Genangan di Kota Tasikmalaya Mulai Berkurang, Pembersihan Saluran Jadi Kunci
Ia mencontohkan, pembelian makanan seperti seblak dan cilok yang menggunakan kemasan plastik maupun styrofoam masih sulit dihindari.
Sampah yang tidak bisa dimanfaatkan kembali tersebut kemudian masuk kategori residu dan harus disalurkan melalui layanan pengangkutan sampah.
“Kalau saya, sehari biasanya menghasilkan sekitar satu kresek sampah ukuran sedang. Salah satu penyebabnya masih ada penggunaan kemasan sekali pakai. Sampah seperti itu masuk kategori residu,” ungkapnya.
