Dewi kemudian memperlihatkan praktik pembuatan eco enzyme menggunakan kulit buah dan sayuran yang masih segar. Bahan tersebut diolah dengan perbandingan 1:3:10, yakni gula, bahan organik, dan air.
Ia juga memperkenalkan komposter ember tumpuk sebagai alternatif pengolahan sampah organik rumah tangga.
Melalui metode tersebut, sampah organik dapat diproses menjadi pupuk organik cair (POC) yang bisa dimanfaatkan untuk menyiram tanaman di pekarangan rumah.
Baca Juga:Honda DAM Beri Diskon Servis 30 Persen untuk Pelajar dan Mahasiswa di Jawa BaratPenanganan Genangan di Kota Tasikmalaya Terkendala Kewenangan, Sungai Ciloa dan Cikalang Perlu Kolaborasi
Selain menghasilkan pupuk, proses pengomposan juga membantu mengembalikan bahan organik ke tanah dan mendukung kehidupan organisme pengurai.
Dewi menunjukkan hasil pengomposan yang telah dilakukan di rumahnya. Di dalam komposter terlihat aktivitas cacing serta hasil penguraiannya yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk alami.
“Ketika kita mengompos, secara tidak langsung kita juga memberi makan makhluk-makhluk lain yang ada di dalam tanah. Hasil penguraian cacing juga bisa dimanfaatkan sebagai pupuk yang sangat bagus untuk tanaman,” jelasnya.
Melalui pelatihan tersebut, FKS berharap pengetahuan pengelolaan sampah tidak berhenti di ruang pertemuan. Para peserta diharapkan dapat menerapkannya di rumah sekaligus menggerakkan warga di lingkungan masing-masing.
Sebab, mengejar capaian 75 persen pengelolaan sampah rumah tangga bukan sekadar mengejar angka penilaian Swasti Saba Wiwerda. Lebih dari itu, perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci agar predikat kota sehat benar-benar terasa dalam kehidupan sehari-hari. (rezza rizaldi)
