Beban Zaman Generasi Muda: Antara Potensi, Etika, dan Daya Juang di Tengah Arus Teknologi

tantangan gen z
Sumpah Pemuda (IST)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Generasi Z kerap dicap sebagai generasi pemalas, manja, kurang tahan menghadapi tekanan, hingga dianggap mengalami penurunan adab. Kedekatan dengan teknologi, gaya komunikasi yang lebih terbuka, dan keinginan meraih kesuksesan secara cepat sering menjadi alasan munculnya penilaian tersebut.

Namun, persoalan generasi muda tidak sesederhana itu. Di tengah perubahan zaman, karakter tidak hanya dipengaruhi kemauan individu, tetapi juga lingkungan keluarga, pendidikan, pergaulan, dan kesempatan untuk berkembang.

Sebagian anak muda memang menghadapi persoalan kedisiplinan dan konsistensi. Namun, menggeneralisasi seluruh generasi berdasarkan perilaku sebagian orang juga bukan cara yang tepat untuk memahami tantangan mereka.

Baca Juga:Hari Santri Jadi Momentum SD Islam Al Misbah Perkuat Karakter SiswaGMNU Kota Tasikmalaya Kritik SiLPA APBD Kota Tasikmalaya 2025 yang Jadi Temuan BPK

Menjelang Hari Sumpah Pemuda ke-98 Tahun 2026 bertema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”, persoalan ini menjadi bahan refleksi. Kecintaan terhadap tanah air, kegigihan menghadapi tantangan, dan kepedulian sosial bukan sekadar tuntutan kepada pemuda, melainkan tanggung jawab bersama untuk menyiapkan masa depan bangsa.

Muhammad Ihsan Rahmatulloh (22), mahasiswa Universitas Siliwangi, menilai Gen Z memiliki karakter berbeda karena tumbuh di tengah perkembangan teknologi, digitalisasi, dan modernisasi. Kedekatan dengan teknologi justru dapat menjadi modal untuk berkembang dan berinovasi.

“Menurutku pribadi mah berkaca dari lingkungan aku yang emang notabenenya Gen Z juga justru yang dirasakan Gen Z tuh generasi yang ambisius dan inovatif karena Gen Z tuh generasi yang paling aware terkait teknologi, digitalisasi dan arus modernisasi,” kata Ihsan.

Meski demikian, Ihsan mengakui ada kelemahan yang perlu dibenahi, terutama dalam mengelola suasana hati dan ego. Membandingkan pencapaian dengan orang lain terkadang membuat anak muda kehilangan fokus terhadap tujuan awal.

“Kelemahannya ada di mood menurutku dan ego, yang akhirnya terutama di diri aku menjadi malas buat belajar lagi, atau misal di lingkungannya sudah ada yang punya penghasilan 2 atau 3 digit, kesentil deh ego kita. Akhirnya kita lupa pada tujuan awal atau visi awal kita,” ujarnya.

Apip Muhammad Faizal (22), mahasiswa Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya, menyoroti derasnya arus informasi yang tidak selalu diimbangi kemampuan memahami persoalan secara mendalam.

0 Komentar