GEN Z PUNYA POLA KERJA SENDIRI
Andhy Romdani, dosen Fakultas Teknik Universitas Siliwangi, menilai daya juang dan etika generasi muda saat ini, khususnya, mahasiswa perlu diperkuat melalui arahan yang jelas dan disiplin.
“Perubahan mahasiswa yang tampak saat ini jika dibandingkan generasi sebelumnya adalah daya juang dan etika yang mesti diperbaiki. Persoalan ini dapat diatasi dengan pemberian arahan yang jelas dan disiplin dari dosen-dosen,” kata Andhy.
Namun, ia mengingatkan bahwa mahasiswa Gen Z juga memiliki potensi yang perlu dikembangkan melalui pendekatan pembelajaran yang sesuai.
Baca Juga:Hari Santri Jadi Momentum SD Islam Al Misbah Perkuat Karakter SiswaGMNU Kota Tasikmalaya Kritik SiLPA APBD Kota Tasikmalaya 2025 yang Jadi Temuan BPK
“Bisa dibilang begitu. Namun setelah saya telusuri, mereka punya pola kerja sendiri. Banyak dosen yang kurang bisa masuk ke pola pikir mereka. Banyak mahasiswa Gen Z yang bertalenta spesial. Tugas dosen adalah menemukan, membimbing, menjelaskan ke mahasiswa agar paham dan mau untuk melesat ke prestasi unggul,” ujarnya.
Feby Surya Abdul Bashit SPd, Guru Bahasa Indonesia SMKN Bantarkalong, punya sudut pandang lain. Ia menolak generalisasi bahwa Gen Z merupakan generasi yang kurang beradab dan tidak tahan tekanan. Perilaku anak muda, menurut dia, turut dipengaruhi pola asuh, lingkungan sosial, dan paparan media sosial.
Penguatan karakter, lanjut Feby, perlu dilakukan melalui pembiasaan refleksi, tanggung jawab atas tindakan, budaya membaca mendalam, pendekatan pendidikan yang empatik tetapi tegas, serta latihan menghadapi tantangan secara bertahap.
“Karakter tidak terbentuk hanya dengan mengetahui mana yang benar dan salah, tetapi melalui kebiasaan bertanggung jawab, menghadapi konsekuensi, dan terus memperbaiki diri,” tandasnya.
Dalam lingkungan pendidikan di sekolah, ia melihat sejumlah perubahan positif pada generasi muda saat ini. Seperti berkurangnya siswa yang datang terlambat dan meningkatnya partisipasi siswa laki-laki dalam salat berjamaah. Meski demikian, kedisiplinan dan tanggung jawab masih menjadi tantangan.
Menurut Feby, sebagian siswa baru mematuhi aturan setelah ada ancaman sanksi. Karena itu, kedisiplinan perlu dibangun sebagai kesadaran, bukan sekadar ketakutan terhadap hukuman.
“Sebagian pelajar belum memiliki kesadaran penuh untuk mematuhi aturan tanpa adanya konsekuensi. Maka dari itu, kedisiplinan perlu dibangun sebagai kesadaran, bukan sekadar ketakutan terhadap sanksi,” ujarnya.
