TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – SD Islam Al Misbah memanfaatkan peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 untuk memperkuat nilai keislaman dan karakter siswa melalui pembiasaan yang diterapkan dalam keseharian. Peringatan yang digelar Kamis (22/10/2026) itu sekaligus menjadi kesempatan bagi sekolah mengenalkan makna kesantrian kepada siswa sejak usia sekolah dasar, tidak sebatas sebagai identitas mereka yang menimba ilmu di pesantren.
Kepala SD Islam Al Misbah, Riva Fuad Fauzi SPdI, mengatakan pemaknaan Hari Santri di sekolah berkaitan dengan upaya membentuk siswa yang berakhlak mulia, berilmu, serta memiliki kecintaan terhadap tanah air. Menurut dia, nilai tersebut perlu dikenalkan melalui sikap yang dapat diterapkan siswa dalam kehidupan sehari-hari.
“Makna utamanya adalah menanamkan kesadaran kepada para siswa bahwa menjadi ‘santri’ tidak sebatas menimba ilmu di pesantren, melainkan sebuah mindset untuk senantiasa taat kepada Allah SWT, patuh kepada guru dan orang tua, serta berkontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa di mana pun mereka berada,” kata Riva.
Baca Juga:GMNU Kota Tasikmalaya Kritik SiLPA APBD Kota Tasikmalaya 2025 yang Jadi Temuan BPKMAN 1 Tasikmalaya Tegaskan Peran Santri Mengisi Kemerdekaan
Pemahaman itu diterapkan melalui sejumlah pembiasaan di lingkungan sekolah. Siswa mengikuti salat Duha dan salat Dzuhur berjamaah, serta melakukan murajaah dan setoran hafalan Al-Qur’an setiap pagi.
Nilai kesantrian juga dibentuk melalui kebiasaan siswa dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Sekolah menerapkan budaya 5S, yakni senyum, sapa, salam, sopan, dan santun ketika siswa berinteraksi dengan guru, orang tua, maupun teman.
Pada peringatan Hari Santri tahun ini, penguatan nilai tersebut turut disampaikan melalui operet pendek bertema “Adab Bertemu dengan Guru”. Pertunjukan interaktif itu memperagakan cara seorang murid bersikap, menyapa, dan meminta izin kepada guru secara santun dan penuh rasa hormat.
Riva mengatakan pendekatan melalui seni peran digunakan untuk menyampaikan pesan adab dengan cara yang sesuai dengan karakteristik siswa sekolah dasar. Menurut dia, penyampaian pesan melalui visualisasi dan seni peran dapat membantu siswa memahami nilai moral secara lebih konkret.
“Anak usia SD lebih cepat menyerap pesan moral melalui ekspresi visual dan seni peran dibandingkan nasihat verbal semata. Pesan adab disampaikan dengan cara yang ceria dan menghibur sehingga nilai kesantrian dapat melekat kuat dalam ingatan siswa,” ujarnya.
