Pendekatan tersebut diterapkan di tengah tantangan sekolah dalam menanamkan nilai keislaman dan akhlak kepada siswa. Riva menyebut perkembangan teknologi dan perubahan lingkungan pergaulan membuat anak rentan terpapar berbagai informasi yang tidak selalu sejalan dengan nilai yang diajarkan di sekolah.
Paparan tersebut antara lain berupa konten digital yang kurang mendidik, penggunaan bahasa yang kurang sopan, hingga nilai-nilai yang bertentangan dengan akhlakul karimah. Perubahan tren media sosial juga disebut memengaruhi lingkungan pergaulan anak.
Kebiasaan mengonsumsi konten berdurasi pendek turut menjadi perhatian sekolah. Riva mengatakan kondisi tersebut membuat anak membutuhkan pendekatan edukasi yang lebih kreatif, dinamis, dan tidak membosankan dalam menerima pesan moral.
Baca Juga:GMNU Kota Tasikmalaya Kritik SiLPA APBD Kota Tasikmalaya 2025 yang Jadi Temuan BPKMAN 1 Tasikmalaya Tegaskan Peran Santri Mengisi Kemerdekaan
Penanaman karakter kemudian diselaraskan dengan pembiasaan di rumah. Riva mengatakan, SD Islam Al Misbah menggunakan buku penghubung atau Mutaba’ah Yaumiyah untuk memantau kegiatan ibadah dan pembiasaan adab siswa, baik di sekolah maupun di rumah.
Menurut Riva, komunikasi dengan orang tua juga dilakukan melalui pertemuan berkala antara orang tua dan guru untuk menyamakan persepsi mengenai pola pengasuhan berbasis karakter Islami. Orang tua juga diajak memberikan keteladanan yang sejalan dengan nilai adab dan kesantrian yang diajarkan di sekolah. (Fitriah Widayanti)
