Beban Zaman Generasi Muda: Antara Potensi, Etika, dan Daya Juang di Tengah Arus Teknologi

tantangan gen z
Sumpah Pemuda (IST)
0 Komentar

Ia juga menilai siswa tidak selalu menolak kritik. Cara penyampaian teguran turut menentukan apakah siswa bersedia menerima masukan.

“Kritik yang merendahkan atau mempermalukan siswa di depan umum dapat memicu sikap defensif. Sebaliknya, teguran secara pribadi melalui dialog, data objektif, dan empati lebih memungkinkan siswa menerima masukan secara konstruktif,” katanya.

Lalu bagaimana pandangan masyarakat dari kalangan Milenial? Irman Bastaman, salah satu pegawai Perum Perhutani KPH Tasikmalaya dari kalangan Gen Z, berpendapat bahwa setiap generasi tumbuh dalam kondisi zaman yang berbeda. Generasi terdahulu menghadapi keterbatasan teknologi, sedangkan generasi sekarang hidup di tengah derasnya informasi dan persaingan global.

Baca Juga:Hari Santri Jadi Momentum SD Islam Al Misbah Perkuat Karakter SiswaGMNU Kota Tasikmalaya Kritik SiLPA APBD Kota Tasikmalaya 2025 yang Jadi Temuan BPK

Menurut dia, perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk mempertentangkan generasi tua dan muda. Setiap generasi memiliki kelebihan, kekurangan, dan tanggung jawab masing-masing.

Ia menggunakan metafora pohon negara untuk menjelaskan bahwa kualitas generasi tidak bisa dilepaskan dari lingkungan tempat mereka tumbuh. Jika buah sebuah pohon tidak berkembang dengan baik, kondisi tanah, akar, dan perawatannya juga perlu diperiksa.

Demikian pula ketika anak muda menghadapi kesulitan memperoleh pekerjaan, pendidikan berkualitas, atau kesempatan berkembang. Persoalan tersebut tidak selalu dapat dijelaskan hanya melalui kemauan dan karakter individu.

“Menurut saya, stigma terhadap Gen Z terkadang membuat kita terlalu sibuk membicarakan kelemahan anak muda, tetapi kurang memberikan perhatian terhadap lingkungan yang membentuk mereka,” katanya.

Meski begitu, Irman menegaskan bahwa persoalan lingkungan bukan alasan untuk menghilangkan tanggung jawab pribadi. Generasi muda tetap perlu meningkatkan kompetensi, menjaga integritas, dan berusaha memperbaiki keadaan.

Menurut dia, masyarakat perlu membedakan tanggung jawab individu dengan tanggung jawab institusi. Keluarga harus memberikan keteladanan, sekolah mengembangkan karakter dan keterampilan, dunia kerja membuka kesempatan yang wajar, serta institusi publik memperbaiki pelayanan dan akuntabilitas. (fwd/obi)

0 Komentar