Beban Zaman Generasi Muda: Antara Potensi, Etika, dan Daya Juang di Tengah Arus Teknologi

tantangan gen z
Sumpah Pemuda (IST)
0 Komentar

“Ini sih yang jadi faktor. Salah satunya adalah kita terkadang lebih cepat berkomentar daripada memahami persoalan secara mendalam. Informasi mudah didapat, tetapi belum tentu semuanya dipikirkan secara kritis,” kata Apip.

Menurut dia, keterbukaan menyampaikan pendapat juga harus disertai etika dan penghormatan kepada orang lain.

“Kita boleh berbeda pendapat dengan orang tua, dosen, atau senior, tetapi tetap harus tahu cara menyampaikannya. Kritis itu bukan berarti kurang ajar, dan sopan bukan berarti harus selalu setuju,” ujarnya.

Baca Juga:Hari Santri Jadi Momentum SD Islam Al Misbah Perkuat Karakter SiswaGMNU Kota Tasikmalaya Kritik SiLPA APBD Kota Tasikmalaya 2025 yang Jadi Temuan BPK

Danti Saqina (23), karyawan di bidang F&B, juga mengakui stigma terhadap Gen Z dapat muncul karena perilaku sebagian anak muda. Namun, menurut dia, hal itu tidak mewakili seluruh generasi.

“Menurut saya stigma seperti itu ada karna melihat emang kenyataannya banyak Gen Z terlihat seperti itu, tapi tidak semua seperti itu kok ada juga yang mental kuat semangat dan beradab,” kata Danti.

Danti berusaha menerima kritik sebagai bagian dari proses memperbaiki diri.

“Aku terima dan pahami, karna bagaimanapun kritik yang membangun sangat dibutuhkan, dalam prinsip ku klo ada yg mengkritik berarti masih ada org yg masih peduli dan mau aku bertumbuh meskipun ada aja yang bikin nangis wkwkkw,” ujarnya.

Sementara itu, Yustina S Azizah (21), karyawan di bidang F&B, menilai kehidupan serba cepat dapat membuat sebagian anak muda terbiasa menginginkan hasil segera. Padahal, keberhasilan tetap membutuhkan proses.

“Sekarang kita hidup di zaman yang serba cepat, apa-apa bisa didapetin dengan mudah lewat teknologi. Jadi mungkin ada sebagian anak muda yang terbiasa pengen hasil cepat dan kurang sabar ngejalanin prosesnya. Tapi menurutku masih banyak juga anak muda yang mau berusaha dan berproses,” kata Yustina.

Menurut dia, anak muda perlu memperkuat kedisiplinan, tanggung jawab, dan konsistensi. Kontribusi sosial pun tidak harus berupa kegiatan besar, tetapi bisa dimulai dengan membantu orang sekitar dan menjaga lingkungan.

Pandangan para pemuda tersebut menjadi pengingat bahwa tantangan Gen Z perlu disikapi secara terbuka. Persoalan karakter memang harus dibenahi, tetapi prosesnya tidak cukup hanya dengan menyalahkan generasi yang tumbuh di tengah perubahan teknologi.

0 Komentar